PONTIANAK MEDIAKOTA.COM – Para pejabat Pemerintah Kota Pontianak unjuk kebolehan mengolah ikan nila menjadi masakan asam pedas khas Pontianak. Lengkap dengan topi koki dan celemek, mereka meracik bumbu hingga mengolah ikan dalam lomba masak yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Pontianak di halaman PMI Kota Pontianak, Minggu (1/11/2026) pagi.
Uniknya, hanya kaum lelaki yang memegang spatula kali ini. Mulai dari Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah, para asisten hingga kepala dinas, semuanya turun langsung ke depan kompor. Bahan dan bumbu sudah disiapkan panitia, tinggal bagaimana para peserta mengolahnya menjadi hidangan yang menggugah selera.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengaku tidak melakukan persiapan khusus menghadapi perlombaan. Namun, ia mendapat arahan dari sang istri sejak sepekan sebelumnya.
“Tidak ada persiapan khusus, cuma istri yang mengarahkan. Sudah satu minggu lalu diarahkan, jadi sekarang tinggal praktiknya,” ujarnya sembari tersenyum.
Meski sudah mendapat bekal dari sang istri, Edi mengakui memasak ikan asam pedas bukan perkara mudah. Peserta harus meracik bumbu dari bahan yang telah disediakan panitia tanpa diperbolehkan menambahkan bahan lain. Selain menentukan komposisi bumbu yang tepat, tingkat kematangan ikan juga menjadi tantangan tersendiri.
“Ikan nila ini kalau terlalu matang bisa lembek, jadi harus pas memasaknya,” jelasnya.
Kendati demikian, Edi tetap optimistis dengan hasil masakannya. Baginya, perlombaan tersebut menjadi pengalaman menyenangkan sekaligus kesempatan mengenal lebih dekat proses pengolahan kuliner khas Pontianak.
Sekitar 34 kelompok peserta dari jajaran Pemkot Pontianak, termasuk badan usaha milik daerah (BUMD), turut ambil bagian. Lomba yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-255 Pontianak ini menjadi ajang silaturahmi setelah sebelumnya para pejabat mengikuti kegiatan Slow Jogging Pontianak 2,55K.
Di balik keseruan lomba, Edi menekankan pentingnya melestarikan asam pedas sebagai salah satu identitas kuliner daerah. Menurutnya, cita rasa khas masakan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengunjung
“Kalau ke Pontianak tidak makan asam pedas, rasanya belum sampai ke Pontianak,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat membiasakan konsumsi ikan sebagai sumber protein, terutama bagi anak-anak. Apalagi, Pontianak memiliki akses terhadap hasil perikanan dari sungai maupun laut.
“Kita harus banyak makan ikan karena kandungan proteinnya diperlukan, terutama untuk anak-anak. Jadi memang harus dibiasakan dalam menu sehari-hari ada ikan,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengaku belum memiliki pengalaman memasak. Dengan nada berseloroh, ia menyebut telah mempersiapkan diri cukup lama untuk menghadapi tantangan di dapur.
“Persiapannya tujuh hari tujuh malam, karena memang belum pernah masak,” ujarnya disambut tawa.
Bagi Bahasan, hasil masakan bukanlah hal utama dalam perlombaan tersebut. Ia justru melihat kegiatan ini sebagai kesempatan mempererat hubungan antarsesama aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat di lingkungan Pemkot Pontianak.
“Mudah-mudahan dengan adanya agenda ini, kita bisa merajut kebersamaan dan silaturahmi, terutama di antara ASN dan para pejabat Pemkot Pontianak. Sehingga kita bisa berbagi kebahagiaan pada momentum hari jadi Kota Pontianak,” katanya.
Bahasan berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan melibatkan lebih banyak peserta. Bahkan, ia membuka peluang agar lomba memasak khas daerah tersebut juga dapat diikuti masyarakat umum.
“Insya Allah ke depan bisa saja melibatkan masyarakat, sehingga lombanya tidak hanya di lingkungan pemerintah kota,” tambahnya.
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menjelaskan, pemilihan menu ikan asam pedas bertujuan menjaga kekhasan kuliner Pontianak agar tetap dikenal dan diwariskan. Meski masakan tersebut juga dijumpai di daerah lain di Kalimantan Barat, setiap daerah memiliki karakteristik bumbu dan cita rasa tersendiri.
“Asam pedas Pontianak berbeda dengan asam pedas Ketapang maupun daerah lainnya. Masing-masing punya cita rasa sendiri. Nah, kekhasan inilah yang ingin kita pertahankan,” terangnya.
Yanieta menuturkan, panitia menyediakan ikan nila seberat 1,5 kilogram untuk setiap kelompok, lengkap dengan berbagai bumbu yang jumlahnya melebihi kebutuhan dasar. Peserta diberi keleluasaan menentukan takaran dan berinovasi, termasuk memilih menggunakan kecombrang atau tidak.
“Kalau asam pedas khas Pontianak biasanya tidak memakai kecombrang. Tetapi kami tetap menyiapkannya. Silakan peserta berinovasi, yang penting tetap mengenal cita rasa khas asam pedas Pontianak,” jelasnya.
Untuk memastikan penilaian sesuai dengan karakteristik masakan daerah, panitia menghadirkan juri yang memahami cita rasa asam pedas Pontianak.
Yanieta mengaku terhibur melihat antusiasme para peserta. Menurutnya, kegiatan tersebut sengaja dikemas dengan konsep fun cooking agar para pejabat dapat menikmati suasana yang lebih santai, tetapi tetap membawa pesan pelestarian budaya kuliner.
“Biasanya bapak-bapak jarang ke dapur, lebih sering tinggal makan saja. Tetapi hari ini justru mereka yang memasak sendiri. Antusiasmenya luar biasa,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda tahunan dengan mengangkat lebih banyak masakan khas Pontianak. Selain memperkenalkan kekayaan kuliner lokal, kegiatan tersebut diharapkan turut membangun kekompakan di lingkungan pemerintah kota.
“Yang penting semuanya happy. Menang atau tidak menang bukan persoalan. Intinya kita bersama-sama menyukseskan kegiatan ini, menjaga silaturahmi, kekompakan, dan tentunya melestarikan masakan khas Kota Pontianak,” pungkasnya.
Hasnan












