Jakarta, MEDIAKOTA.COM,-
Profesor Riset BRIN, Prof. Hidayat, menegaskan bahwa lahan basah dan dataran banjir memiliki peran vital dalam menjaga ketahanan air serta mengurangi risiko banjir di Indonesia. Selama ini, lahan basah kerap dianggap sebagai lahan tidak produktif atau wasteland, padahal kawasan tersebut merupakan sistem alami penyimpan air yang sangat penting bagi keseimbangan lingkungan.
Demikian dikatakan Prof Hidayat usai pengukuhan Profesor Riset bertempat di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), baru-baru ini (16/7).
Menurut Prof. Hidayat, riset yang selama ini ia lakukan berfokus pada ekosistem lahan basah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Ia menjelaskan bahwa sungai dan kawasan lahan basah merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung, sehingga keberadaannya menjadi penyangga alami bagi wilayah hilir.
Ia mencontohkan kawasan Mahakam Tengah di Kalimantan Timur yang memiliki sekitar 30 danau. Kawasan tersebut berfungsi sebagai tempat penampungan air ketika curah hujan tinggi. Air kemudian disimpan selama berbulan-bulan sebelum dilepaskan secara bertahap ke wilayah hilir.
“Kalau kawasan lahan basah di Mahakam Tengah itu tidak ada, daerah seperti Tenggarong hingga Samarinda berpotensi mengalami banjir yang jauh lebih parah. Itulah fungsi alami lahan basah sebagai penahan dan pengatur aliran air,” ujarnya.
Selain mengurangi potensi banjir, kawasan tersebut juga menjadi cadangan air pada musim kemarau. Air yang tersimpan akan mengalir perlahan sehingga membantu menjaga ketersediaan air bagi masyarakat di wilayah hilir.
Prof. Hidayat mengingatkan bahwa berbagai komponen alam yang sering dianggap tidak bermanfaat sesungguhnya memiliki fungsi ekologis yang sangat besar. Ia mencontohkan eceng gondok yang sering dipandang sebagai gulma, namun tetap memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak menjaga alam dan tidak mengubah seluruh kawasan lahan basah menjadi area perkebunan atau penggunaan lain yang menghilangkan fungsi alaminya sebagai daerah retensi air.
“Menjaga lahan basah berarti menjaga ketahanan air sekaligus mengurangi ancaman banjir dan kekeringan di masa depan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hidayat juga berharap BRIN terus memperkuat riset di bidang sumber daya air sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan air nasional dan pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, air merupakan komponen fundamental yang mendukung hampir seluruh sektor pembangunan, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pusat-pusat komputasi AI membutuhkan sistem pendingin yang sangat bergantung pada ketersediaan air, sehingga pengelolaan sumber daya air akan semakin strategis di masa depan.
Prof. Hidayat saat ini bertugas sebagai peneliti di Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN. Ia berharap hasil-hasil riset mengenai pengelolaan lahan basah dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan nasional untuk menjaga keseimbangan lingkungan, memperkuat ketahanan air, serta meningkatkan kemampuan Indonesia menghadapi dampak perubahan iklim.(f/red)












