Menantang Terik di Aik Kelik : Kolaborasi Babinsa dan PPL Bakar Semangat Petani di Tengah Ancaman Kemarau

Aik Kelik, Belitung Timur – Matahari baru saja meninggi di atas langit Dusun Air Kelik, Kecamatan Damar, ketika Sertu R Hutagalung menyeka keringat di dahinya. Pagi itu, Selasa (1/9/2026), jarum jam menunjukkan pukul 08.30 WIB, namun hawa panas khas musim kemarau sudah mulai memanggang hamparan tanah di kebun milik Bapak Timbul. Di bawah naungan pohon yang seadanya, sebuah diskusi hangat justru sedang tercipta. Babinsa Desa Aik Kelik dari Koramil 414-05/Kelapa Kampit tersebut, duduk melingkar bersama Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan perwakilan Kelompok Tani Karya Sepakat. Mereka tidak sedang meratapi tanah yang mulai mengering, melainkan merajut strategi bertahan.

Kehadiran Sertu R Hutagalung di tengah kebun bukan sekadar kunjungan formalitas. Di tengah situasi sulit akibat musim panas yang memperpanjang tantangan sektor pertanian, ia hadir membawa suntikan moral. Ia menegaskan bahwa kondisi alam boleh saja panas, tetapi semangat menggarap tanah tidak boleh dingin. Sertu R Hutagalung juga mengingatkan bahwa situasi ini sebenarnya adalah momentum emas karena saat ini atensi dan dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian serta perkebunan sedang berada di titik tertinggi. Bersama PPL, Babinsa bertindak sebagai jembatan informasi agar para petani di Aik Kelik tidak tertinggal arus modernisasi dan siap menjemput berbagai program bantuan yang ada.

Sembari memotivasi, dialog interaktif di tengah perkebunan ini juga menyentuh sisi krusial yang kerap menjadi momok saat musim kemarau, yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sertu R Hutagalung memanfaatkan kedekatan emosionalnya dengan warga untuk menyelipkan edukasi hukum dan lingkungan. Dengan tegas namun humanis, ia mengimbau para anggota Kelompok Tani Karya Sepakat untuk memutus tradisi lama membersihkan lahan dengan cara dibakar. Menurutnya, satu percikan api kecil di musim seperti ini bisa menjadi bencana besar bagi desa, sehingga peningkatan hasil kebun harus dicapai tanpa meninggalkan risiko kelalaian yang merugikan.

Pertemuan yang berlangsung hingga siang hari tersebut akhirnya melahirkan sebuah komitmen baru di tingkat tapak. Kelompok Tani Karya Sepakat sepakat untuk menerapkan metode pembersihan lahan manual yang ramah lingkungan, sekaligus saling mengawasi area perkebunan masing-masing dari potensi titik api. Aksi nyata Komunikasi Sosial (Komsos) di kebun Bapak Timbul ini menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal pupuk dan benih, melainkan tentang ketahanan mental para pelakunya yang terus dirawat oleh sinergi TNI dan instansi terkait di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!