Jakarta, MEDIAKOTA.COM,-
Keselamatan bangunan gedung di Indonesia dinilai perlu terus diperkuat, terutama dalam menghadapi potensi kebakaran yang dapat merambat dengan cepat melalui bagian luar bangunan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Indonesia Fire & Rescue Foundation, Peter Placidus S Petrus, Presiden & Ceo, di tengah acara pameran yang berlangsung baru-baru ini ber6empat di JI Expo, Kemayoran, Jakarta (11/8).
Menurutnya, penyusunan standar tersebut bertujuan agar desain bangunan tidak hanya terpaku pada ketentuan yang bersifat preskriptif, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam meningkatkan kualitas serta keselamatan bangunan.
“Jadi kita sedang melaksanakan pembuatan Standar Nasional Indonesia untuk desain suatu gedung berbasis kinerja,” ujar Pter Placidus.
Ia menjelaskan, pendekatan berbasis kinerja memungkinkan suatu inovasi atau metode yang dinilai lebih baik untuk tetap dapat dikembangkan dan dihargai dalam penerapan standar bangunan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti persoalan keselamatan sejumlah gedung, khususnya terkait penggunaan material pada bagian luar bangunan atau building envelope (selubung bangunan).
Ia mencontohkan kasus kebakaran yang terjadi pada sebuah gedung pemerintahan. Menurutnya, api dapat dengan cepat menjalar dari bagian luar bangunan melalui material cladding yang memiliki bahan isolasi mudah terbakar.
“Kalau ada lampu-lampu untuk reklame, lalu kabelnya kurang baik dan menyentuh itu, kemudian terjadi korsleting, selubung bangunan ini bisa menyebarkan api,” jelasnya.
Ia menilai aspek perlindungan terhadap kebakaran dari sisi luar bangunan perlu mendapat perhatian lebih serius. Penggunaan material tertentu pada bagian luar gedung, kata dia, semestinya dikaji kembali apabila memiliki potensi mempercepat penyebaran api.
“Semestinya tidak boleh pasang apa pun yang berbahan plastik di luar gedung. Metal cladding itu menggunakan isolasi, dan bahan isolasinya bisa mudah terbakar,” katanya.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi penting mengingat kebakaran pada bagian luar bangunan dapat merambat ke lantai-lantai lain dengan cepat dan kemudian masuk ke bagian dalam gedung.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat regulasi serta standar keselamatan bangunan, termasuk melalui penerapan SNI yang mengikuti perkembangan teknologi dan praktik terbaik internasional.
Ia menegaskan, asosiasi yang dipimpinnya selama ini terus bekerja sama dengan pemerintah dalam penyusunan standar. Salah satu fokusnya adalah melakukan harmonisasi standar nasional dengan standar yang berlaku secara internasional.
“Kami ujung tombaknya membuat standar. Kami juga membuat standar yang diakui di seluruh dunia, kemudian membuat seminar-seminar tentang standar dan menyusun Standar Nasional Indonesia dengan pola harmonisasi dari standar luar negeri,” ujarnya.
Ia berharap peningkatan standar dan pemahaman mengenai keselamatan bangunan dapat mencegah terjadinya kebakaran serta meminimalkan risiko terhadap penghuni gedung.
“Harapannya bagaimana supaya kebakaran itu tidak terjadi, lalu orang benar-benar memahami bahwa pekerjaan harus dilakukan dengan benar,” pungkasnya. (f/red)










