Manggar, Belitung Timur – Sebuah langkah preventif yang humanis baru saja tuntas diukir di tanah Pulau Belitung. Tim Satgas Penyuluhan dan Sosialisasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) resmi mengakhiri masa tugasnya di wilayah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Tim ini mendatangi Kantor Bupati Belitung Timur dengan tujuan untuk berpamitan secara resmi, di mana acara pisah pamit berlangsung khidmat di Ruang Kerja Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, pada Jumat (18/9/2026) pukul 10.00 WIB.
Dalam kesempatan pamitan tersebut, tim didampingi oleh Danramil 414-01/Tanjungpandan Mayor Czi Tabrani yang hadir mewakili Dandim 0414/Belitung Letkol Inf Rahman Safii Tanjung. Kehadiran komando kewilayahan setempat ini menegaskan solidnya kolaborasi pengamanan lingkungan antara pusat dan daerah.
Berbeda dari pendekatan militer pada umumnya, kehadiran tim gabungan lintas matra (TNI AD, TNI AL, dan TNI AU) selama beberapa pekan terakhir di Belitung tidak membawa senjata, melainkan membawa misi edukasi, literasi lingkungan, dan pendekatan menyentuh hati (heart-to-heart) langsung ke tingkat desa.
Misi krusial di wilayah Pulau Belitung dan sekitarnya ini dipimpin langsung oleh Kolonel Laut (P) Sumantri Kuswandono selaku Ketua Tim Sosialisasi Wilayah Belitung & Beltim. Bersama beliau, turut diterjunkan sejumlah perwira senior, di antaranya Kolonel Marinir Sudrajat S. Putra, Kolonel Marinir M. Abdillah, Kolonel Kal M. Ikhsan, dan Kolonel Kal Moch. Ribut HR. Kekuatan sosialisasi di lapangan juga semakin diperkuat oleh perwira pendukung lainnya, yakni Kolonel Laut (P) Arif Budi R, Kolonel Taufik Effendi, serta Mayor Arm Mursid.
Selama operasi sosialisasi, jajaran perwira Mabes TNI bersama komando kewilayahan setempat terbukti berhasil memetakan wilayah rawan dan masuk ke kantong-kantong masyarakat perkebunan serta petani tradisional. Mengingat tipikal lahan di Belitung yang kaya akan potensi semak belukar pasca-tambang dan lahan gambut yang rentan memicu api saat musim kemarau, edukasi difokuskan pada penghentian budaya membuka lahan dengan cara membakar.
Menariknya, para perwira tidak hanya memaparkan sanksi hukum, melainkan aktif berdialog bersama para dukun adat (tetua adat Belitung) dan pemuka masyarakat. Mereka menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal tentang menjaga hutan yang selaras dengan pesan kelestarian alam lingkungan. Pendekatan kultural inilah yang membuat pesan pencegahan Karhutla jauh lebih mudah diterima oleh warga lokal tanpa memicu resistensi.
Selain memberikan penyuluhan, Tim Mabes TNI juga meninggalkan warisan penting berupa penguatan sistem pelaporan dan deteksi dini berbasis komunitas. Masyarakat di wilayah rawan kini dibekali pengetahuan taktis mengenai cara membaca arah angin, mengenali titik panas (hotspot) secara mandiri, hingga mekanisme koordinasi cepat dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan instansi pemadam terkait sebelum api meluas menjadi bencana.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, menyampaikan apresiasi yang mendalam saat menyambut langsung momentum pamitan tim di ruang kerjanya. Kehadiran para perwira Mabes TNI dinilai telah menyuntikkan semangat baru dan meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat dari yang semula “responsif saat ada api” menjadi “proaktif melakukan pencegahan.”
Dalam pamit perpisahannya, Kolonel Laut (P) Sumantri Kuswandono menyampaikan rasa haru atas keramahan dan keterbukaan yang ditunjukkan oleh pemerintah daerah serta masyarakat Belitung dan Belitung Timur. Ia menegaskan bahwa meski tim kembali ke kesatuan induk di Jakarta, tanggung jawab menjaga kelestarian bumi jepun ini kini berada di pundak kolaborasi kokoh antara pemerintah daerah, TNI-Polri setempat, dan seluruh warga.
Pertemuan hangat di ruang kerja Wakil Bupati tersebut ditutup dengan prosesi saling tukar cenderamata dan foto bersama sebagai simbol sinergi yang abadi. Tim lintas matra Mabes TNI melangkah pergi meninggalkan Belitung, namun mereka juga meninggalkan kesadaran baru yang tertanam kuat di hati sanubari masyarakat: bahwa menjaga hutan dari api adalah bagian dari menjaga masa depan anak cucu persada.












