Sentilan Keras Wabup Belitung Timur: Jangan Biarkan Kekayaan Maritim Pantai Punai Terkubur Tanpa Dampak Ekonomi

Belitung Timur – Potensi pariwisata raksasa di Pantai Punai, Desa Tanjung Kelumpang, selama ini dinilai belum tergarap maksimal dan terkesan berjalan di tempat. Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar, melayangkan penegasan keras bahwa ego sektoral harus segera diakhiri. Penguatan destinasi unggulan ini mustahil terwujud tanpa adanya kolaborasi nyata dan radikal antara pemerintah desa, masyarakat setempat, dan seluruh pemangku kebijakan.

“Potensi Pantai Punai sangat besar, namun pengembangannya harus dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat,” ujar Khairil dengan nada tegas, Selasa (23/6/2026) disela menghadiri Peresmian Serempak Jalan Inpres Daerah 2025 Bersama Presiden RI secara hibrida memanfaatkan teknologi konferensi video langsung dari Istana Kepresidenan yang bertempat di ruang rapat DPUPRP2RKP Belitung Timur.

Sentilan Wakil Bupati Beltim Khairil Anwar ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh pihak agar tidak lagi membiarkan aset sekaya Pantai Punai hanya menjadi tontonan tanpa dampak ekonomi yang konkret bagi warga lokal.

” Pantai Punai bukan sekadar hamparan pasir putih, air laut jernih, dan hiasan batu granit ikonik yang memanjakan mata. Lebih dari itu, kekuatan utama yang selama ini terabaikan adalah kekayaan budaya maritim lewat delapan aktivitas tradisional masyarakatnya. Mulai dari mengambil ikan dalam siro, ngenderik, memancing ikan bebulus, mukat empang, mukat tarik, memancing ngebing, memancing menggunakan perahu, hingga pasang bubu kepiting,” terangnya.

Menurutnya, Seluruh aktivitas lokal ini, bersama eksotisme Pulau Gampang Kemudi, diklaim memiliki nilai jual tinggi untuk wisata minat khusus yang belum tersentuh modernisasi tiruan.

Khairil mendesak agar rutinitas pesisir ini segera dikemas menjadi agenda wisata berkelas, seperti festival tahunan dan lomba memancing internasional yang terjadwal rapi, bukan sekadar acara seremonial musiman.

Pemerintah Daerah mengingatkan dengan keras bahwa pengembangan Pantai Punai harus berbasis pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan jangka panjang, bukan eksploitasi sesaat. Kini, bola panas pembangunan berada di tangan masyarakat desa dan jajaran pemerintah selaku pemilik wilayah. Publik kini menunggu langkah nyata, apakah Pantai Punai akan bertransformasi menjadi magnet wisata internasional yang mandiri, atau tetap terkubur dalam potensi yang tak pernah menjadi aksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!