Gantung, Belitung Timur – Suasana mencekam yang sempat menyelimuti Kantor Operasional PT Timah Tbk di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, perlahan-lahan menyusut bersama bergerak turunnya matahari sore ini, Jumat, 7 Agustus 2026. Tepat pukul 14.10 WIB, gelombang massa yang sejak pagi mengurung benteng perusahaan plat merah tersebut mulai mencair.
Ratusan sepeda motor, puluhan mobil, dan truk terbuka yang sebelumnya memadati jalanan mulai memutar balik. Namun, mundurnya ribuan penambang rakyat ini bukan membawa bendera kemenangan atau kepuasan, melainkan akibat tekanan fisik dari alam dan panggilan urusan domestik perut yang tak bisa lagi ditoleransi.
Jejak-jejak anarkisme masih terlihat jelas di area depan kantor operasional. Kaca-kaca gedung pecah berantakan, pagar besi gerbang utama roboh, dan kursi-kursi di ruang tunggu porak-poranda. Tidak puas sampai di situ, kemarahan massa yang tak terbendung kemudian bergeser ke fasilitas vital lainnya. Masyarakat pendemo langsung mendatangi area gudang penyimpanan milik PT Timah Tbk. Massa kembali melakukan pengrusakan massal secara anarkis dan melakukan pembakaran terhadap fasilitas gudang dan sejumlah kendaraan roda dua. Api dengan cepat berkobar menghanguskan aset di area pergudangan, memperparah kerusakan materiil yang dialami pihak perusahaan yang merupakan sasaran pelampiasan rasa frustrasi.
Bagi PT Timah Tbk, amuk massa ini menyisakan kerugian material yang tidak sedikit, menambah daftar panjang beban operasional di tengah karut-marut tata kelola komoditas timah regional. Mengapa aksi ini meledak hari ini? Padahal, pada awal pekan, Aliansi Penambang sempat membatalkan rencana demonstrasi setelah adanya kesepakatan penyesuaian harga beli menjadi Rp170.000 per kilogram untuk OC 72.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain dan ketidakpuasan arus bawah ternyata tidak terbendung akibat beberapa alasan krusial. Mayoritas penambang merasa angka Rp170.000 masih jauh dari kata layak untuk menutupi biaya operasional mesin bensin dan suku cadang tambang yang kian melambung, sementara target awal mereka tetap kokoh di angka Rp 200.000 perkilogram. Selain itu, janji pembukaan 8 stasiun pengepul timah resmi PT Timah dinilai belum sepenuhnya menyentuh kantong-kantong tambang rakyat terpencil, sehingga antrean dan birokrasi penjualan justru mempersulit perputaran modal harian mereka.
Di tengah situasi pembubaran massa yang anti-klimaks akibat kelelahan fisik dan tuntutan domestik tersebut, sebuah angin segar sekaligus ujian komitmen berembus ke barisan penambang. Informasi dari beberapa perwakilan massa di lapangan menyebutkan bahwa pihak manajemen PT Timah Tbk akhirnya melunak demi meredam gejolak lebih besar dengan memberikan janji krusial. Manajemen dikabarkan berjanji akan menaikkan harga beli bijih timah menjadi Rp200.000 per kilogram OC 73 mulai sore ini, diiringi komitmen untuk segera membuka kembali stasiun pengepul timah dan mitra PT Timah yang ditunjuk yang sempat tersendat pengoperasiannya.
Janji manis di pengujung hari ini yang disampaikan langsung oleh Ka Unit PT Timah TbK wilayah Belitung, Feriandi disikapi dengan kewaspadaan penuh oleh para penambang rakyat yang telanjur kecewa. Di sela-sela langkah mereka meninggalkan lokasi, para pendemo menegaskan dengan lantang bahwa pembubaran diri jam 14.10 WIB ini hanyalah masa jeda sementara.
Jika hingga sore atau malam nanti janji kenaikan OC 73 harga Rp200.000 tersebut terbukti hanya isapan jempol belaka atau tidak ada perubahan nyata di stasiun pengepul, mereka memastikan akan mengonsolidasikan massa yang jauh lebih besar. Mereka penambang menegaskan tidak akan lagi mendatangi kantor operasional Gantung, melainkan langsung bergerak mengepung Kantor Bupati Belitung Timur dan Kantor DPRD Belitung Timur besok pagi.
“Kami tidak puas, tapi anak istri di rumah juga harus diberi makan malam ini. Kalau kami bertahan di sini tanpa kejelasan, dapur di rumah makin tidak mengepul. Namun ingat, jika sore ini stasiun pengepul tidak buka dengan harga baru, besok Manggar kami buat lumpuh!” ketus salah satu penambang lokal dengan nada mengancam sambil menghidupkan mesin motornya untuk meninggalkan lokasi.
Meski massa telah membubarkan diri secara bertahap, aparat kepolisian dari Polres Belitung Timur bersama unsur TNI tetap menyiagakan personel berlapis di sekitar area kantor dan gudang operasional. Kendaraan taktis masih disiagakan di titik-titik rawan guna mengantisipasi pergerakan massa susulan pada malam hari atau persiapan pengamanan jalur menuju pusat pemerintahan di Manggar esok hari.
Situasi di Gantung memang telah kembali sunyi, namun riak ketidakpuasan di kalangan penambang rakyat ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa kembali tersulut menjadi ledakan politik lokal yang lebih besar jika regulasi tata niaga timah tidak segera menyentuh keadilan isi piring dapur mereka.












