BELITUNG TIMUR – Rencana aksi unjuk rasa besar-besaran oleh Aliansi Penambang Timah Belitung Timur yang dijadwalkan pada Rabu, 5 Agustus 2026, resmi dibatalkan setelah tercapainya kesepakatan lewat jalur dialog. Langkah damai ini menjadi angin segar bagi kondusivitas wilayah Manggar dan sekitarnya.
Koordinator Lapangan (Korlap) Aliansi Penambang Timah Belitung Timur, Ade Wartha Pramana bersama Dadang, menegaskan pembatalan ini murni karena seluruh tuntutan penambang telah diakomodasi dengan baik oleh pihak terkait.
“Kami sampaikan kepada seluruh rekan-rekan penambang dan masyarakat bahwa rencana aksi hari Rabu nanti resmi ditiadakan,” ujar Ade Wartha Pramana saat memberikan keterangan pers khusus.
Menurutnya, keputusan ini diambil setelah perwakilan aliansi duduk bersama pihak pengambil kebijakan di Warkop Pondok Kopi di Kulong keroh Desa Padang Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur. Senin (3/8/2026) pukul 16.00 WIB. Dimana dialog yang intens ini demi mencari jalan keluar terbaik bagi nasib para penambang lokal.
Ade juga menepis isu miring yang beredar di media sosial mengenai adanya intervensi atau intimidasi terhadap gerakan mereka. Ia menjamin bahwa keputusan pembatalan ini diambil secara independen dan tanpa paksaan.
“Tidak ada tekanan dari pihak mana pun, baik aparat maupun pemerintah. Ini murni karena tuntutan kami sudah dipenuhi melalui musyawarah mufakat,” tambah Dadang mempertegas situasi.
Merespons kesepakatan tersebut, Okta Pratomo selaku Department Head Pengawas Produksi (Wasprod) Darat Wilayah Belitung Timur PT Timah Tbk, menyatakan komitmen perusahaan untuk mendukung hasil musyawarah demi menjaga stabilitas wilayah.
Pihak PT Timah TbK memastikan akan menindaklanjuti poin-poin kesepakatan yang menjadi kewenangan korporasi, termasuk melakukan koordinasi internal mengenai tata niaga dan pengawasan aktivitas pertambangan di lapangan. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan komitmen perusahaan dalam membangun sinergi yang harmonis bersama penambang rakyat serta pemerintah daerah.
Di sisi legislatif, Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja turut mengawal penyelesaian masalah ini dengan turut hadir dan menjadi saksi komitmen yang dikeluarkan oleh PT Timah TbK. Ia menekankan kepastian harga di stasiun pengepul timah SN 72 itu Rp. 170.000/kg.
” Apa apabila di luar itu ada perbedaan harga dapat melaporkan ke PT Timah melalui pak Okta selaku Department Head Pengawas Produksi (Wasprod) Darat Wilayah Belitung Timur PT Timah Tbk,” terangnya.
Apresiasi tinggi juga datang dari pihak penegak hukum. Kapolres Belitung Timur, AKBP Dr. Husni Tamrin, S.T., S.H., M.Hum., menyampaikan terima kasih kepada seluruh koordinator lapangan dan perwakilan masyarakat yang telah mengedepankan konsolidasi serta menyampaikan aspirasi dengan cara yang aman, tertib, dan kondusif.
Menurutnya, kesepakatan membatalkan rencana aksi unjuk rasa di Kantor DPRD, Kantor Bupati, maupun PT Timah ini merupakan hasil dari kerja keras bersama dalam membangun komunikasi yang baik.
“Keputusan ini menunjukkan bahwa masyarakat Belitung Timur telah memahami makna demokrasi yang sesungguhnya, yaitu menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab dan mengutamakan dialog serta musyawarah untuk mencapai mufakat. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menjaga situasi tetap aman dan kondusif. Hal ini menjadi bukti kedewasaan masyarakat Belitung Timur dalam berdemokrasi. Semoga ke depan semangat dialog, kebersamaan, dan musyawarah untuk mencapai mufakat terus menjadi budaya kita dalam menyelesaikan setiap persoalan, sehingga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Kabupaten Belitung Timur tetap terjaga,” ujar Kapolres.
Pembatalan aksi ini disambut positif oleh berbagai kalangan di Belitung Timur. Pendekatan dialogis yang dipilih oleh Aliansi Penambang membuktikan bahwa aspirasi masyarakat dapat disalurkan secara efektif tanpa harus mengganggu ketertiban umum.
Dengan tercapainya titik temu ini, aktivitas pertambangan rakyat diharapkan dapat berjalan lebih kepastian hukumnya, sekaligus menjaga stabilitas roda ekonomi daerah yang sangat bergantung pada sektor timah. Pihak aliansi juga mengimbau seluruh penambang untuk tetap tenang dan kembali bekerja seperti biasa sambil mengawal realisasi dari poin-poin kesepakatan yang telah disetujui bersama.












