JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,—
Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi, regenerasi kepemimpinan, sekaligus penguatan peran perempuan Sulawesi Selatan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam agenda Munas tersebut, sejumlah pembahasan strategis menjadi perhatian, mulai dari evaluasi dan kemungkinan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), pemilihan ketua umum, hingga upaya menjaga identitas dan kebudayaan Bugis di tengah kehidupan masyarakat perantauan.
Hajah Rohana Andi Sose, Ketua IWSS Cabang Banyuasin, Sumatera Selatan, mengatakan Munas merupakan forum lima tahunan yang memiliki arti penting bagi keberlangsungan organisasi. Melalui forum ini, seluruh elemen IWSS dari berbagai wilayah dapat menyatukan pandangan mengenai arah organisasi ke depan.
Menurutnya, pembahasan AD/ART menjadi salah satu agenda penting untuk menentukan apakah aturan organisasi yang berlaku masih relevan atau memerlukan penyempurnaan sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman.
Ia menegaskan, keberadaan IWSS bukan sekadar wadah berkumpulnya perempuan asal Sulawesi Selatan di tanah rantau. Lebih dari itu, organisasi ini memiliki tanggung jawab menjaga warisan budaya dan memperkuat identitas masyarakat Bugis agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
“Alhamdulillah, kita semua bangga dengan adanya ikatan bagi wanita perantau untuk selalu memajukan budaya, tidak menghilangkan budaya Bugis meskipun berada di luar Sulawesi Selatan,” ungkapnya.
Selain membahas arah organisasi, Munas ke-9 juga mengagendakan pemilihan ketua umum untuk periode kepengurusan berikutnya. Ketua umum sebelumnya, Hj. Andi Nurhiyati, masih menjadi nama yang disebut dalam pembicaraan sementara menjelang proses pemilihan.
Meski demikian, hingga wawancara berlangsung, belum terdapat kepastian mengenai munculnya kandidat lain. Peluang calon tunggal masih terbuka, tetapi dinamika menjelang pemilihan tetap memungkinkan adanya perkembangan.
Terkait sosok pemimpin yang diharapkan, Haja Rohana menilai IWSS membutuhkan figur yang mampu mengayomi, memahami kebutuhan organisasi, serta memiliki visi untuk membawa IWSS semakin maju.
Baginya, kepemimpinan ke depan tidak cukup hanya menjalankan roda organisasi, tetapi juga harus mampu membangun kebersamaan dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, termasuk melalui jaringan perempuan Sulawesi Selatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Munas IWSS ke-9 diharapkan melahirkan keputusan yang memperkuat soliditas organisasi, menjaga kesinambungan kepemimpinan, serta memastikan perempuan Sulawesi Selatan tetap memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya dan pembangunan bangsa. (f/red)












