Dr. H. Aspiuddin: KUPI Harus Jadi Rumah Persatuan Warga Pidie dan Penghubung dengan Kampung Halaman

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Keluarga Urang Pidie (KUPI) Jakarta terus memperkuat peran sebagai wadah pemersatu masyarakat asal Kabupaten Pidie yang berada di wilayah Jabodetabek. Melalui kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan santunan anak Yatim, organisasi ini berupaya mempererat silaturahmi, membangun solidaritas sosial, sekaligus menjaga kepedulian warga perantauan terhadap kampung halaman.

Ketua Umum Kumpulan Urang Pidie Jakarta, Dr. H. Aspiuddin, S.H., M.H., mengatakan kegiatan Maulid yang diselenggarakan setiap tahun bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan momentum untuk menghimpun kembali warga Pidie di perantauan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Menurutnya, kehidupan di perantauan membutuhkan ikatan persaudaraan yang kuat agar masyarakat tidak kehilangan hubungan sosial maupun kepedulian terhadap daerah asal.

“Kita ingin menghimpun kembali warga kita yang ada di Jabodetabek supaya terjalin silaturahmi. Kita saling mengetahui persoalan masing-masing dan membangkitkan semangat ukhuwah Islamiyah,” ujar Aspiuddin.

Ia menegaskan, KUPI dibangun dengan semangat kesetaraan tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun kedudukan. Seluruh warga Pidie memiliki posisi yang sama dalam organisasi dan mempunyai tanggung jawab bersama untuk menjaga persatuan.

Lebih jauh, KUPI ingin menjadi kekuatan sosial masyarakat Pidie di perantauan yang mampu bersinergi dengan pemerintah daerah. Kehadiran organisasi diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi dan kepedulian antara masyarakat di Jakarta dengan kampung halaman.

“Di sini tidak ada persoalan tingkatan status sosial. Kita semua sama. Yang terpenting bagaimana orang-orang Aceh di perantauan, khususnya warga Pidie, bisa menyatu dan berpikir untuk kampung halaman. Kalau pemerintah daerah membutuhkan, kita juga siap membantu,” tegasnya.

Aspiuddin memperkirakan jumlah warga asal Pidie yang berada di Jabodetabek mencapai sekitar 30.000 orang. Potensi tersebut menjadi kekuatan besar yang perlu dikelola melalui organisasi yang solid dan terstruktur.

Selama ini, KUPI juga berupaya hadir ketika warga menghadapi persoalan sosial, ekonomi, kesehatan, maupun musibah. Organisasi tersebut menjalankan fungsi pengayoman agar masyarakat perantauan memiliki wadah komunikasi dan saling membantu.

Di sisi lain, KUPI terus menjaga hubungan dengan pemerintah daerah dan masyarakat di Kabupaten Pidie. Salah satunya melalui kehadiran perwakilan pengurus dalam peringatan hari jadi pemerintah daerah di Pidie. Kehadiran tersebut menjadi simbol bahwa hubungan antara warga perantauan dan daerah asal tetap terjaga.

Bangun Kepedulian Sosial dan Program Kemanusiaan

Meski kepengurusan baru terbentuk pada Agustus 2026, Aspiuddin mengakui program organisasi masih dalam tahap penyusunan. Namun, kepedulian terhadap masyarakat kampung halaman telah berjalan melalui kontribusi pribadi sejumlah pengurus dan anggota.

Ia mencontohkan bantuan sosial yang selama ini diberikan kepada masyarakat di wilayah Laweung, Pidie. Bantuan tersebut mencakup warga kurang mampu, masyarakat yang sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit, keluarga yang mengalami musibah kematian, serta anak-anak pesantren.

Aspiuddin mengungkapkan, secara pribadi dirinya telah menjalankan program bantuan Rp250.000 bagi warga yang sakit dan berobat di rumah sakit, serta Rp300.000 untuk warga yang meninggal dunia. Ia juga memberikan perhatian kepada anak-anak pesantren di bawah pengawasannya.

Menurutnya, meskipun sejumlah bantuan dilakukan secara pribadi, semangat dan identitas sebagai bagian dari KUPI tetap melekat. Hal itu mencerminkan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dari tanggung jawab warga Pidie, baik di perantauan maupun di kampung halaman.

Ke depan, KUPI juga berencana mengembangkan program penghimpunan zakat di Jakarta untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat di berbagai desa di Kabupaten Pidie.

Targetkan Rumah Bersama sebagai Pusat Kegiatan

Salah satu agenda jangka panjang yang tengah dipersiapkan KUPI adalah memiliki rumah bersama atau kantor organisasi sendiri di Jakarta. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat koordinasi, komunikasi, silaturahmi, sekaligus pengembangan kegiatan sosial masyarakat Pidie.

Aspiuddin mengatakan, pengurus akan menggelar rapat untuk menentukan program prioritas yang realistis dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Ketua Pelaksana kegiatan Maulid, Dr. H. Rahmatullah, S.IP., S.M., M.H., beserta seluruh panitia yang dinilai telah bekerja keras menyukseskan acara.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut merupakan hasil kerja kolektif pengurus yang membagi tanggung jawab dan selalu berupaya hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat.

“Saya melihat mereka bekerja siang malam tanpa pamrih. Mereka benar-benar menjadi pahlawan kemanusiaan di Jakarta yang mewakili masyarakat Kabupaten Pidie,” ungkapnya.

Dengan kepengurusan yang masih relatif baru, KUPI Jakarta menargetkan penguatan organisasi, peningkatan pelayanan sosial, serta perluasan sinergi dengan pemerintah daerah. Bagi Aspiuddin, identitas sebagai warga Pidie tidak boleh terputus hanya karena jarak dan kehidupan di perantauan.

KUPI diharapkan menjadi rumah persaudaraan yang bukan hanya menyatukan warga Pidie di Jabodetabek, tetapi juga menjaga tanggung jawab bersama untuk membangun dan membantu kampung halaman. (f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!