Animal Welfare Jadi Kunci Ketahanan Industri Peternakan, AWO Indonesia Perkuat Kolaborasi dari Feedlot hingga Rumah Potong

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri peternakan nasional dan global, kesejahteraan hewan (animal welfare) dinilai tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan industri.

Komitmen tersebut terus diperkuat oleh Animal Welfare Officer (AWO) Indonesia melalui berbagai program edukasi, pengawasan, dan kolaborasi lintas sektor.

Ketua Umum AWO Indonesia, Ismau Alim, menegaskan bahwa aspek kesejahteraan hewan tidak hanya menjadi tuntutan etika, tetapi juga menjadi standar penting dalam industri peternakan modern, khususnya yang berkaitan dengan rantai pasok sapi impor dari Australia.

“Animal welfare menjadi salah satu patokan utama dalam industri ini. Di tengah maraknya tantangan, termasuk ancaman penyakit ternak, prinsip kesejahteraan hewan tetap harus menjadi prioritas,” ujar Ismau Alim ketika diwawancara baru-baru ini (16/6) pada acara Indo Livestock 2026 Expo & Forum, bertempat di Nusantara International Convention Exhibition Pik 2 Jakarta Utara.

Menurutnya, AWO Indonesia hadir untuk memastikan seluruh proses penanganan ternak berjalan sesuai standar kesejahteraan hewan, mulai dari proses transportasi, penggemukan (feedlot), hingga tahap pemotongan di rumah pemotongan hewan (RPH).

“Kami berkontribusi memastikan ternak yang dipotong sesuai dengan kaidah-kaidah kesejahteraan hewan yang berlaku. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri peternakan nasional,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ismawan menjelaskan bahwa keikutsertaan AWO Indonesia dalam berbagai kegiatan dan pameran industri bertujuan untuk memperkuat sosialisasi serta meningkatkan kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya penerapan prinsip animal welfare.

“Kami ingin menyuarakan bahwa AWO tetap hadir dan terus berkontribusi bagi industri ini. Program-program yang kami jalankan harus tersampaikan dengan baik kepada masyarakat dan seluruh pelaku industri,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, Ismawan menilai bahwa industri peternakan memang sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Namun ia optimistis para pelaku usaha mampu beradaptasi karena industri ini telah terbukti bertahan dalam berbagai situasi selama bertahun-tahun.

“Naik turunnya industri adalah hal yang wajar. Namun yang terpenting adalah bagaimana industri ini tetap berkelanjutan. Jangan sampai keberlanjutan itu terganggu karena kita mengabaikan aspek kesejahteraan hewan,” tegasnya.
Saat ini, AWO Indonesia memiliki sekitar 180 anggota aktif yang berasal dari berbagai sektor industri peternakan. Selain itu, banyak pihak non-anggota yang turut terlibat dan memiliki perhatian terhadap penerapan prinsip kesejahteraan hewan di Indonesia.
AWO Indonesia juga terus memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai organisasi dan pemangku kepentingan, termasuk Supervisor Halal, Juru Sembelih Halal (Juleha), pengelola Rumah Pemotongan Hewan (RPH), hingga komunitas pelaku Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA).

“Semua pihak tersebut memiliki perhatian yang sama terhadap animal welfare. Karena itu kami membangun sinergi agar penerapan kesejahteraan hewan semakin kuat di seluruh rantai industri,” jelas Ismawan.

Sebagai salah satu pendiri organisasi yang berdiri sejak 2012, Ismawan berharap kolaborasi yang semakin luas dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menerapkan standar kesejahteraan hewan yang diakui secara internasional, sekaligus menjaga daya saing industri peternakan nasional di masa depan.

“Animal welfare bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri peternakan Indonesia,” pungkasnya.(f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!