Ketua Umum INTROSEA, Artati Widiarti: Rumput Laut Indonesia Adalah Harta Karun yang Belum Sepenuhnya Dimanfaatkan

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Potensi rumput laut Indonesia dinilai masih sangat besar dan belum tergarap optimal. Karena itu, Ikatan Industri Rumput Laut Indonesia (INTROSIA) hadir untuk mendorong percepatan hilirisasi serta pengembangan produk turunan rumput laut yang memiliki nilai tambah tinggi bagi perekonomian nasional.

Ketua Umum INTROSIA, Artati Widiarti, ketika diwawancra baru-baru ini (16/6) pada acara Indo Livestock Expo 2026 di PIK 2 Jakarta Utara menjelaskan bahwa selama ini masyarakat lebih mengenal produk hidrokoloid seperti karaginan dan agar-agar. Padahal, masih banyak produk turunan rumput laut lainnya yang memiliki prospek besar di pasar domestik maupun global, mulai dari bahan farmasi, obat-obatan, hingga biostimulan untuk sektor pertanian.

“Produk turunan rumput laut itu sangat beragam. Selain karaginan dan agar, ada bahan farmasi, biostimulan, dan berbagai produk inovatif lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di situlah kami ingin mengambil peran untuk mendorong pengembangannya,” ujarnya.

INTROSI sendiri merupakan wadah yang menghimpun berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem rumput laut nasional. Organisasi ini beranggotakan para profesor dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi, peneliti, pelaku usaha, startup, pemerhati industri, hingga perwakilan pemerintah dan UMKM.
Keberagaman latar belakang anggota tersebut menjadi kekuatan utama dalam membangun kolaborasi yang mampu mempercepat inovasi dan pengembangan industri rumput laut Indonesia.

“Di INTROSI ada ahli taksonomi tanaman, ahli pengolahan, para peneliti, pelaku bisnis, startup, pemerintah, hingga UMKM. Kami ingin menjadi rumah bersama bagi seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan industri rumput laut,” katanya.

Secara resmi, INTROSI memperoleh pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2025. Namun, embrio organisasi tersebut telah terbentuk sejak 2024 melalui berbagai forum diskusi dan kolaborasi yang melibatkan para pelaku industri dan akademisi.
Menurutnya, rumput laut merupakan salah satu komoditas paling prospektif yang dimiliki Indonesia. Pertumbuhan sektor ini terus menunjukkan tren positif, didukung oleh besarnya permintaan pasar global. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah tingginya ekspor bahan mentah yang menyebabkan nilai tambah belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

“Kalau rumput laut bisa lebih banyak diolah di dalam negeri, tentu nilai tambahnya akan tinggal di Indonesia. Ini yang harus kita dorong bersama agar manfaat ekonominya lebih besar bagi masyarakat dan industri nasional,” tegasnya.

Salah satu produk yang dinilai memiliki peluang besar adalah biostimulan berbahan dasar rumput laut. Produk ini berfungsi meningkatkan efisiensi serapan pupuk sehingga penggunaan pupuk kimia dapat ditekan sekaligus membantu mempercepat pemulihan kesuburan tanah yang mengalami defisiensi unsur hara.

“Biostimulan sangat penting untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Penggunaan pupuk menjadi lebih efektif, lebih hemat, dan kondisi tanah dapat dipulihkan lebih cepat,” jelasnya.

Melalui partisipasinya dalam berbagai pameran dan forum industri, INTROSI berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi besar rumput laut Indonesia yang selama ini belum banyak diketahui.

Menurutnya, paradoks yang terjadi saat ini adalah tingginya minat dunia internasional terhadap produk rumput laut Indonesia, sementara pemahaman masyarakat dan pelaku usaha dalam negeri terhadap potensi tersebut masih relatif rendah.
“Kami ingin masyarakat Indonesia lebih aware bahwa kita memiliki potensi luar biasa di sektor rumput laut. Jangan sampai bangsa lain lebih dulu melihat peluangnya sementara kita sendiri belum memanfaatkannya secara maksimal,” ujarnya.

Selain memperluas edukasi publik, INTROSI juga berharap keikutsertaan dalam berbagai pameran mampu membuka peluang kemitraan dan jaringan bisnis baru bagi para anggotanya. Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan pelaku usaha, hilirisasi rumput laut Indonesia diyakini dapat berkembang lebih cepat dan menjadi salah satu penggerak ekonomi berbasis sumber daya kelautan di masa depan.

“Harapan kami sederhana, yakni membangun ekosistem yang sehat dan produktif sehingga para anggota mendapatkan manfaat nyata, baik dari sisi pengembangan teknologi, inovasi maupun jaringan bisnis. Dengan begitu, industri rumput laut Indonesia bisa naik kelas dan menjadi pemain utama di pasar global,” pungkasnya.(f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!