JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Ketua Pelaksana Rembuk Pemuda ke-3, Sultan Rivandi, menilai persoalan ekonomi yang dihadapi generasi muda memiliki keterkaitan erat dengan kondisi kelas menengah di Indonesia. Tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dan terbatasnya kesempatan menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui keterlibatan anak muda dalam pembangunan nasional.
Hal tersebut disampaikan Sultan dalam kegiatan Rembuk Pemuda ke-3 yang berlangsung di Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini mempertemukan pengurus pusat dan daerah dari berbagai wilayah Indonesia untuk bertukar gagasan mengenai kontribusi generasi muda bagi pembangunan bangsa.
Dalam pemaparannya, Sultan menyoroti fenomena penurunan status ekonomi masyarakat kelas menengah. Ia menyebut hampir 10 juta orang mengalami penurunan kelas menengah dalam periode 2019 hingga 2024.
Menurut dia, meskipun sebagian besar masyarakat yang mengalami penurunan tersebut tidak masuk kategori miskin, kondisi itu tetap mencerminkan kerentanan ekonomi yang perlu menjadi perhatian bersama.
“Nasib kelas menengah dan nasib anak muda adalah cerita yang sama. Keduanya tumbuh bersama dan keduanya pula sedang gelisah bersama,” ujar Sultan.
Ia berpandangan, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak cukup dijawab melalui diskusi dan kritik semata. Diperlukan langkah konkret dengan membuka kesempatan yang lebih luas agar anak muda dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan.
Sultan menegaskan, generasi muda harus diberikan ruang untuk berkontribusi, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kebijakan. Keterlibatan tersebut juga perlu menjangkau berbagai sektor pembangunan, mulai dari wilayah perdesaan hingga perkotaan.
“Kami meyakini ketika anak muda dilibatkan dalam pekerjaan besar membangun negeri ini dari desa sampai ke kota, dari perencanaan sampai pelaksanaan, kami tidak akan menyia-nyiakannya,” katanya.
Lebih lanjut, Sultan mengajak generasi muda untuk mengubah kegelisahan terhadap berbagai persoalan bangsa menjadi energi positif yang melahirkan gerakan dan kontribusi nyata.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat Sumpah Pemuda sebagai nilai perjuangan yang harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Jangan pernah kita warisi abunya Sumpah Pemuda, tapi kita harus mewarisi apinya Sumpah Pemuda. Mari berembuk, mari beraksi, mari berdampak,” tutur Sultan.
Melalui Rembuk Pemuda ke-3, ia berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antargenerasi muda dari berbagai daerah. Dengan demikian, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga mampu melahirkan inisiatif dan aksi nyata bagi masyarakat.
Semangat berembuk, beraksi, dan berdampak diharapkan menjadi landasan bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam menjawab tantangan pembangunan Indonesia. (f/red)












