Beri Tenggat 10 Hari, Gubernur Hidayat Arsani Desak PT SMM Tuntaskan Plasma 20 Persen Warga Jangkang dan Nyurok

Nyurok, Belitung Timur – Suasana di dalam Gedung Serbaguna Desa Nyuruk, Belitung Timur, awalnya diselimuti ketegangan dan riuh bisik kekecewaan. Jarum jam terus berputar, melompati jadwal yang seharusnya. Di luar gedung, desas-desus pembatalan sempat berembus kencang setelah kabar pergeseran waktu dan hari beredar di tengah masyarakat Desa Jangkang dan Desa Nyurok. Namun, apa yang terjadi di balik layar sebelum ketukan palu pertemuan dimulai adalah sebuah drama komitmen yang belum pernah terungkap ke publik.

Di balik keterlambatan tersebut, ada perjuangan melelahkan dari Penjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani. Beliau dilaporkan terjebak selama sembilan jam di bandara akibat penundaan penerbangan (delay) yang masif. Di saat protokoler sempat menyarankan untuk menjadwalkan ulang pertemuan demi efisiensi waktu, Hidayat Arsani secara tegas menolak untuk putar balik. Bagi sang gubernur, membiarkan ratusan petani plasma menunggu tanpa kepastian adalah opsi yang sama sekali tidak ada dalam daftarnya.

“Masyarakat sudah mengorbankan waktu mereka, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mundur,” tegas Hidayat di sela-sela persiapannya sebelum memasuki ruangan.

Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam gedung pertemuan, riuh kecewa langsung berubah menjadi tepuk tangan riuh. Tanpa basa-basi basa-basi birokrasi, pertemuan langsung mengerucut pada inti persoalan yang membakar konflik horizontal selama ini: kewajiban realisasi kebun plasma 20 persen oleh PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM).

Dalam dialog yang berlangsung transparan tersebut, perwakilan warga dari kedua desa memaparkan fakta-fakta lapangan mengenai janji-janji korporasi yang dinilai masih jalan di tempat. Kehadiran Hidayat Arsani di tengah kelelahan fisik pasca-perjalanan panjang menjadi angin segar sekaligus jaminan kuat bahwa Pemprov Babel tidak akan menjadi penonton pasif. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mengawal, menekan, dan memastikan hak 20 persen plasma tersebut bukan lagi sekadar angka di atas kertas kemitraan, melainkan kesejahteraan nyata yang masuk ke kantong para petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!