Komitmen di Tengah Kabut Jerebu: Cerita Gubernur Hidayat Arsani 9 Jam Terkatung-katung demi Janji Plasma Warga Nyurok

BANGKA BELITUNG – Kabut asap pekat dan angin kencang yang menyelimuti Pulau Belitung tidak hanya melumpuhkan jalur penerbangan, tetapi juga menguji keteguhan sebuah komitmen kepemimpinan. Rapat krusial pembahasan kebun plasma 20 persen PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) di Gedung Serbaguna Desa Nyurok, Kecamatan Dendang, Belitung Timur, Kamis (15/10/2026), terpaksa dijadwalkan ulang.

Namun, di balik penundaan itu, tersimpan drama perjuangan panjang Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, yang rela menghabiskan waktu sembilan jam di bandara hingga pesawatnya dialihkan ke Jakarta demi menepati janji kepada ratusan petani.

Sejak pukul 08.00 WIB, suasana di Gedung Serbaguna Desa Nyurok sebenarnya sudah dipadati oleh massa dari Desa Nyurok dan Desa Jangkang. Masyarakat yang telah bertahun-tahun memperjuangkan hak kemitraan dari total Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan sawit tersebut hadir dengan harapan tinggi. Sesuai undangan, peluit tanda dimulainya rapat seharusnya ditiup tepat pukul 10.00 WIB.

Namun, agenda tersebut dihantam ketidakpastian sejak dari titik keberangkatan di Pulau Bangka. Pesawat yang seharusnya boarding pukul 07.15 WIB di Bandara Depati Amir Pangkalpinang terus diundur karena cuaca buruk di rute Palembang – Pangkalpinang.

Di saat penumpang lain pasrah memilih reschedule (jadwal ulang), refund tiket, dan pulang ke rumah, Gubernur Hidayat Arsani memilih tetap bertahan di ruang tunggu. Total delapan jam lebih ia habiskan di ruang tunggu Bandara Depati Amir demi satu agenda: bertemu masyarakat di Desa Nyurok.

Informasi keterlambatan ini sempat diteruskan ke lokasi acara di Belitung Timur. Di tengah penantian, panitia mengumumkan bahwa ada kemungkinan rombongan gubernur akan tiba sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Berpegang pada harapan itu, ratusan warga dan perwakilan tokoh masyarakat memilih setia bertahan di dalam dan sekitar gedung meski hawa panas dan kabut jerebu mulai terasa menyesakkan.

Drama Mencekam di Udara dan Pengalihan ke Jakarta

Rombongan Gubernur akhirnya baru bisa bertolak menggunakan pesawat Super Air Jet IU-302 pada pukul 15.30 WIB. Namun, petualangan belum usai. Saat pesawat mendekati Bandara HAS Hanandjoeddin Tanjungpandan pada pukul 16.10 WIB, kondisi di dalam kabin sempat mencekam. Pesawat berguncang beberapa kali akibat angin kencang.

Pilot mengumumkan bahwa kecepatan angin di landasan pacu 36 terlalu kencang untuk pendaratan aman, sementara di landasan satu, jarak pandang (visibility) kurang dari 2.000 meter akibat kepungan asap tebal. Menghadapi risiko keselamatan yang tinggi, pilot terpaksa melakukan manuver go-around (batal mendarat dan terbang kembali naik) lalu mengalihkan (divert) pendaratan ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan mendarat pada pukul 16.53 WIB.

Mengingat waktu yang sudah bergeser jauh, pada pukul 14.00 WIB di lokasi acara, panitia di Gedung Serbaguna Desa Nyurok akhirnya resmi mengumumkan penjadwalan ulang acara menjadi Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB di lokasi yang sama.

“Ini Soal Kepercayaan, Bukan Sekadar Rapat”

Meski terdampar di Jakarta dan terpisah jarak, semangat Hidayat Arsani tidak luntur. Ia bahkan sempat menolak tawaran dari Kepala Biro Hukum dan Kepala DPMPTSP Babel yang ikut dalam rombongan untuk kembali ke Pangkalpinang dan mengikuti rapat secara daring melalui zoom.

“Beliau bilang, masyarakat sudah menunggu di lapangan. Kita harus hadir langsung. Kalau kita tunda-tunda terus, kapan selesainya masalah plasma ini,” ujar salah satu pejabat pendamping menirukan ketegasan Gubernur.

Hidayat Arsani menegaskan komitmennya dengan nada bicara yang berapi-api.

“Saya sudah janji sama masyarakat di Nyurok. Mereka sudah kumpul sejak pagi. Saya tidak enak kalau tidak datang. Makanya saya tunggu, berapa jam pun. Mau 9 jam, mau 10 jam, kalau masih ada pesawat yang bisa bawa saya ke Belitung hari ini, saya akan tetap berangkat. Kalau tidak hari ini, besok pagi pertama saya harus sudah di sana. Ini bukan soal rapat, ini soal kepercayaan,” tegas Hidayat Arsani.

Hingga berita ini diturunkan, Gubernur Hidayat Arsani dilaporkan masih berada di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta untuk mencari kepastian penerbangan lanjutan ke Tanjungpandan. Bagi sang kepala daerah, jerebu alam mungkin bisa mengacaukan jadwal penerbangan, namun tidak dengan komitmennya kepada rakyat.

“Cuaca boleh tidak pasti, tapi janji saya ke masyarakat harus pasti,” tutup Hidayat.

Mendengar kegigihan sang Gubernur, koordinator warga di Desa Nyurok menyatakan kesiapannya untuk kembali melipatgandakan barisan massa esok pagi. Pekatnya asap jerebu hari ini terbukti kalah telak oleh kuatnya api perjuangan warga dan kesetiaan seorang pemimpin yang menolak ingkar janji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!