16 Juta Hektare Sawit Bisa Jadi Lumbung Sapi, GAPENSISKA Sebut Integrasi Solusi Masa Depan Peternakan Indonesia

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Ketua Umum Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (GAPENSISKA) Windu Negara menegaskan bahwa integrasi sapi dan kelapa sawit merupakan salah satu strategi paling potensial untuk mempercepat terwujudnya swasembada daging sapi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dalam pameran Indo Livestock 2026 Expo dan Forum yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) di Jakarta PiK2, baru-baru ini (16/6).

Di tengah tingginya antusiasme masyarakat yang datang untuk mencari informasi terkait sektor peternakan dan perkebunan berkelanjutan GAPENSISKA turut hadir di pameran ini,” ucap Windu.

Ketum Gapensiska mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung yang memadati area pameran menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap berbagai inovasi di sektor pertanian dan peternakan. Menurutnya, momentum tersebut menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan konsep integrasi sapi dan kelapa sawit kepada masyarakat luas.

“Antusiasme pengunjung sangat luar biasa. Banyak masyarakat dari berbagai kalangan datang untuk mencari informasi. Kami merasa senang karena konsep integrasi sapi dan kelapa sawit yang kami sosialisasikan dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat melalui pameran ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan model integrasi tersebut. Dengan luas perkebunan kelapa sawit yang mencapai sekitar 16 juta hektare, Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat potensial untuk mendukung pengembangan peternakan sapi secara lebih efisien.

Di sisi lain, kebutuhan daging nasional hingga saat ini masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi Gapensiska untuk terus mendorong pemanfaatan lahan perkebunan sawit sebagai basis pengembangan populasi sapi nasional.

“Indonesia belum sepenuhnya swasembada daging sapi. Sebagian kebutuhan masih dipenuhi dari impor. Karena itu kami melihat integrasi sapi dan kelapa sawit menjadi solusi strategis untuk meningkatkan produksi sapi dalam negeri,” katanya.

Meski demikian, implementasi program ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah belum semua pemilik perkebunan kelapa sawit bersedia menerima keberadaan sapi di area kebun mereka. Karena itu, edukasi dan sosialisasi kepada para pemangku kepentingan terus dilakukan agar manfaat integrasi dapat dipahami secara lebih luas.

Dalam pameran tersebut, Gapensiska tidak menargetkan capaian bisnis tertentu. Fokus utama organisasi adalah memperluas pemahaman masyarakat mengenai konsep integrasi sapi dan kelapa sawit, termasuk manfaat ekonomi, lingkungan, dan keberlanjutan yang dapat dihasilkan.

Konsep integrasi ini memungkinkan pemeliharaan sapi dilakukan langsung di kawasan perkebunan kelapa sawit. Rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan alami sehingga mampu menekan biaya produksi peternak secara signifikan.

Selain itu, berbagai limbah hasil perkebunan sawit juga dapat diolah menjadi bahan pakan ternak. Pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan komersial yang harganya terus meningkat, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular di sektor perkebunan.

Lebih jauh, keberadaan sapi di kawasan perkebunan dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi lahan sawit. Sinergi antara sektor peternakan dan perkebunan ini menciptakan ekosistem usaha yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui penguatan model integrasi sapi dan kelapa sawit, Gapensiska optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan populasi ternak, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus mewujudkan kemandirian pangan nasional di sektor daging sapi.(f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!