Permintaan Melonjak, Jabon Group Nusantara Ajak Peternak Muda Perkuat Industri Kelinci Pedaging Nasional

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
PT Jabon Group Nusantara menegaskan komitmennya dalam membangun industri kelinci pedaging nasional melalui penguatan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.

Dalam pameran yang digelar di Nusantara International Convention Exhibitioan (NIC) fi PIK 2 Jakarta Utara, Selasa (16/6), perusahaan binaan IPB University tersebut menampilkan berbagai inovasi dan program pemberdayaan peternak yang telah dijalankan bersama sejumlah mitra strategis.

Sebagai anggota Masyarakat Perkelincian Indonesia (Makindo), PT Jabon Group Nusantara mengembangkan model bisnis terintegrasi yang mencakup pembinaan peternak, penyediaan fasilitas pemotongan bersertifikat halal, hingga pengolahan dan pemasaran produk berbasis daging kelinci.

CEO PT Jabon Group Nusantara, Octavian Fauzi, mengatakan bahwa perusahaan terus memperluas kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pertamina Foundation guna meningkatkan kapasitas peternak kecil sekaligus memperkuat rantai pasok industri kelinci pedaging nasional.

“Kami mengumpulkan peternak-peternak kecil untuk diedukasi dan didampingi. Hasil ternak mereka kemudian kami serap untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Dengan cara ini, peternak memperoleh kepastian pasar sekaligus peningkatan kesejahteraan,” ujar Octavian.

Dalam sektor tengah, perusahaan telah mengoperasikan Rumah Potong Hewan (RPH) bersertifikat halal di wilayah Bogor dan Sukabumi.

Sementara pada sektor hilir, Jabon Group Nusantara menghadirkan beragam inovasi produk olahan berbasis daging kelinci, termasuk sambal daging kelinci yang disebut sebagai produk pertama di Indonesia.

Selain itu, perusahaan juga memproduksi nugget, bakso, dan risol berbahan dasar daging kelinci untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang. Produk-produk tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek, Bandung, dan Bali.

Octavian menjelaskan bahwa daging kelinci memiliki sejumlah keunggulan nutrisi yang masih belum banyak diketahui masyarakat.

Berdasarkan kajian yang dilakukan bersama BRIN, daging kelinci memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang rendah sehingga berpotensi menjadi alternatif sumber protein yang lebih sehat.

“Kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat terus meningkat. Kami melihat daging kelinci memiliki peluang besar untuk menjadi pilihan protein masa depan karena kandungan gizinya yang baik dan permintaan pasarnya yang terus tumbuh,” katanya.

Saat ini, perusahaan melayani dua segmen pasar utama, yakni produk pangan untuk konsumsi manusia (human food) dan produk berbahan dasar daging kelinci untuk hewan peliharaan atau pet food. Kedua segmen tersebut menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, tingginya permintaan pasar belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan pasokan. Menurut Octavian, tantangan terbesar yang dihadapi industri saat ini adalah keterbatasan jumlah peternak dan produksi kelinci pedaging.

Bogor dan Sukabumi masih menjadi sentra utama pemasok kelinci bagi perusahaan. Selain itu, pengembangan peternakan juga dilakukan di Solo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, serta Kalimantan Utara melalui program pembinaan bersama Pertamina Foundation.

Untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus meningkat, PT Jabon Group Nusantara menargetkan perekrutan peternak muda baru serta pengembangan fasilitas close house selama tahun 2026. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat fondasi sektor hulu peternakan kelinci nasional.

Melalui momentum pameran ini, perusahaan juga mengajak generasi muda untuk melihat peternakan kelinci sebagai peluang usaha yang menjanjikan dan memiliki prospek pasar yang luas.

Di akhir kesempatan, Octavian berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan komoditas kelinci pedaging sebagai salah satu sumber protein alternatif nasional.

“Kami berharap kelinci pedaging mendapatkan dukungan yang setara dengan komoditas peternakan lainnya. Potensinya sangat besar, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pemberdayaan peternak. Dengan dukungan regulasi dan kebijakan yang tepat, kami optimistis industri kelinci Indonesia dapat berkembang lebih cepat dan berdaya saing,” pungkasnya.(f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!