JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup dimanfaatkan perusahaan migas untuk menegaskan komitmennya dalam menjalankan program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat yang memberikan dampak nyata bagi warga di sekitar wilayah operasi.
Dalam kegiatan puncak Hari Lingkungan Hidup, Andi Basuki selaku Ganeral Manager menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan bukan mengambil peran negara, melainkan memastikan seluruh aktivitas operasional dan program sosial berjalan sesuai standar lingkungan yang tinggi serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Yang kami lakukan adalah memastikan semua dilaksanakan secara proper. Dalam tiga tahun terakhir kami memperoleh Proper Emas, dan meskipun tahun ini mendapatkan Proper Hijau, standar yang kami jalankan tetap standar emas,” ujarnya.
Salah satu program unggulan yang saat ini dikembangkan adalah Bank Eko Tempur, sebuah inisiatif pengelolaan limbah organik yang dijalankan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Program ini lahir dari kebutuhan memanfaatkan potensi limbah organik, terutama kotoran ternak, untuk mendukung sektor pertanian di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Tengah.
Melalui fasilitas yang disebut Posbiddik, masyarakat dapat menukarkan limbah organik yang mereka miliki menjadi pupuk atau memperoleh nilai ekonomi dalam bentuk pendapatan. Program tersebut tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan warga.
Saat ini, produksi pupuk dari program tersebut telah mencapai sekitar 400 ton, dengan pendapatan kelompok masyarakat mencapai Rp53 juta per bulan. Sebanyak 120 petani terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.
Dari sisi dampak sosial, program ini juga menunjukkan hasil positif. Tingkat kepuasan masyarakat tercatat mencapai 3,44, sementara nilai Social Return on Investment (SROI) mencapai 2,45, yang berarti setiap investasi Rp1 yang dikeluarkan mampu menghasilkan manfaat sosial senilai Rp2,45 bagi masyarakat.
Selain pengelolaan limbah organik, perusahaan juga mengembangkan program Panutan Banggai, sebuah inovasi pengendalian hama tikus dengan memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami.
Program ini hadir sebagai solusi atas persoalan serangan tikus yang selama bertahun-tahun mengganggu produktivitas pertanian.
Sebelumnya, sebagian petani menggunakan aliran listrik untuk mengendalikan hama, yang berisiko menyebabkan kecelakaan hingga korban jiwa.
Kini, perusahaan telah membangun sekitar 112 rumah burung hantu yang tersebar di sejumlah wilayah pertanian. Setiap burung hantu mampu menjaga area sekitar lima hektare lahan pertanian dari serangan hama tikus.
Program tersebut telah menjangkau beberapa kecamatan dan dinilai berhasil mengurangi penggunaan metode berbahaya yang sebelumnya sering menimbulkan korban akibat tersengat listrik.
Rumah-rumah burung hantu tersebut dibangun menggunakan material non-B3 dengan desain khusus yang mendukung habitat satwa endemik tersebut sekaligus memperkuat pengendalian hama secara alami dan berkelanjutan.
Perusahaan juga menegaskan bahwa seluruh kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan bukanlah program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagaimana perusahaan pada umumnya, melainkan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) yang diamanatkan oleh Undang-Undang Migas.
Berbeda dengan CSR yang bersumber dari kebijakan perusahaan, PPM merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan di wilayah operasi dan dibiayai melalui mekanisme cost recovery. Program ini juga wajib diaudit oleh berbagai lembaga, termasuk auditor internal dan eksternal, serta dapat dievaluasi melalui indikator yang terukur seperti indeks kepuasan masyarakat dan SROI.
Pada kesempatan tersebut, perusahaan juga menyampaikan harapan kepada pemerintah pusat agar memberikan arah yang lebih jelas terkait pengelolaan sampah dalam skala besar. Menurutnya, berbagai program bank sampah dan pengelolaan limbah yang telah dibangun di daerah masih membutuhkan dukungan teknologi dan model pengelolaan yang dapat diterapkan secara luas.
“Kami berharap ada contoh atau model teknologi pengelolaan sampah dari pemerintah pusat yang bisa diterapkan di daerah, sehingga persoalan sampah dapat ditangani lebih efektif dan menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.
Melalui berbagai program berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat tersebut, perusahaan berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan, pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan ketahanan sektor pertanian di wilayah operasional. (f/red)












