BOGOR, MEDIAKOTA.COM,-
Kontes sapi 2026 kembali digelar dengan skala yang lebih besar. Tidak sekadar menjadi ajang adu kualitas ternak, kontes kali ini membawa gengsi lebih tinggi karena memperebutkan Piala Presiden, yang disebut menjadi salah satu puncak dari rangkaian kontes sapi yang selama ini digelar di berbagai daerah.
Ketua Panitia Kontes Sapi 2026, Sumardi, ketika di wawanncra siang ini (3/10) mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin dan dalam satu tahun dapat digelar dua hingga tiga kali dengan lokasi yang bergulir dari satu daerah ke daerah lainnya.
“Setahun bisa dua kali, kadang tiga kali. Kita bergulir dari daerah ke daerah. Pernah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, kemudian hari ini di Bogor, Pakansari. Pernah juga di Lampung,” ujar Sumardi.
Kontes tahun ini juga menunjukkan cakupan peserta yang cukup luas. Peserta tidak hanya berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta, tetapi juga Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung hingga wilayah Kalimantan.
Menurut Sumardi, sistem pertandingan dirancang agar berbagai kategori sapi dapat terakomodasi. Kelas yang dipertandingkan mencakup kategori baby, pedet, remaja hingga kelas extreme untuk sapi dengan ukuran terbesar.
“Semua jenis sapi insya Allah terakomodir hari ini, karena kelasnya diperbanyak,” katanya.
Yang membedakan kontes tahun 2026 adalah jumlah kelas yang semakin banyak. Panitia menyediakan 14 kelas, lebih banyak dibanding pelaksanaan sebelumnya. Selain kelas-kelas utama, panitia juga menghadirkan kelas unik untuk memberikan ruang lebih luas bagi para peserta.
Puncak perhatian tertuju pada perebutan Piala Presiden. Sumardi menyebut penghargaan tersebut memiliki gengsi tersendiri dan menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kontes sapi yang telah mereka selenggarakan.
“Piala Presiden ini termasuk piala yang sangat bergengsi. Mungkin puncaknya dari semua yang sudah kita lakukan,” ungkapnya.
Menariknya, penentuan juara umum tidak ditentukan hanya berdasarkan performa satu ekor sapi. Gelar tersebut merupakan hasil akumulasi prestasi sejumlah sapi yang dikirim oleh satu farm dalam berbagai kelas.
Sebagai contoh, satu farm dapat mengikuti kelas pedet, non-poel, PO dan kelas lainnya. Setiap capaian kemudian dikumpulkan dan dihitung. Farm dengan akumulasi nilai tertinggi berhak menyandang gelar juara umum.
Konsep tersebut membuat persaingan tidak hanya berlangsung antarindividu sapi, tetapi juga menjadi pertarungan konsistensi dan kualitas sebuah farm dalam berbagai kelas.
Sementara itu, panitia memastikan proses penjurian dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang persapian.
“Jurinya yang pasti berkompeten tentang persapian,” tegas Sumardi.
Lebih dari sekadar kompetisi, Sumardi berharap kegiatan tersebut mampu menjadi sarana edukasi dan sosialisasi mengenai dunia peternakan sekaligus menghadirkan hiburan bagi masyarakat.
“Harapan saya, kami bisa menyajikan suguhan. Ini adalah edukasi, sosialisasi, sekaligus hiburan untuk masyarakat,” pungkasnya. (f/red)












