SIJUK — Upaya antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah kepulauan terus diintensifkan. Menanggapi potensi kerawanan musim kemarau, Tim Karhutla Mabes TNI yang dipimpin oleh Kolonel Laut Sumantri Kuswandono turun langsung ke lapangan untuk menggelar aksi nyata di Kecamatan Sijuk, Belitung, pada Senin pagi (7/9/2026).
Didampingi oleh Batiops Kodim 0414/Belitung, Serma Fernando dan dua personel Babinsa setempat, Serka Astiyandi dan Serka Gatot, tim yang beranggotakan empat personel ahli dari Mabes TNI ini membidik dua wilayah krusial, yakni Desa Batu Itam dan Desa Keciput. Langkah preventif ini diambil sebagai komitmen TNI dalam melindungi ekosistem pesisir dan kawasan penyangga wisata Belitung dari ancaman kabut asap.
Kehadiran rombongan perwira menengah ini disambut hangat oleh Kepala Desa Batu Itam beserta jajarannya, serta Plt Kepala Desa Keciput yang hadir bersama seluruh perangkat desa. Sinergi antara TNI dan otoritas desa ini menjadi sinyal kuat bahwa penanganan Karhutla tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja.
Dalam arahannya, Kolonel Laut Sumantri Kuswandono menekankan bahwa kunci utama dari pencegahan kebakaran adalah kesiapsiagaan dari akar rumput.
“Kami hadir bukan hanya untuk memantau titik rawan, tetapi untuk membangun sistem pertahanan dini yang berbasis masyarakat. Mengetahui bahaya saja tidak cukup; masyarakat harus memiliki keterampilan taktis untuk memadamkan api sebelum ia membesar dan meluas,” ujar Kolonel Sumantri di hadapan para aparatur desa.
Sosialisasi ini tidak hanya memaparkan materi teoritis mengenai regulasi dan sanksi hukum pembakaran lahan, tetapi juga membekali perangkat desa dengan pengetahuan mitigasi bencana secara dini. Warga diajak untuk mengubah pola pikir dari ‘memadamkan kebakaran’ menjadi ‘mencegah munculnya percikan api’.
Dampak Karhutla yang multisektoral, mulai dari rusaknya habitat flora dan fauna, ancaman penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga lumpuhnya sektor pariwisata yang menjadi urat nadi Kecamatan Sijuk, menjadi poin utama yang ditekankan sepanjang kegiatan pemantauan.
Melalui kolaborasi strategis antara Mabes TNI, Babinsa, dan pemerintah desa ini, diharapkan Desa Batu Itam dan Desa Keciput dapat menjadi pelopor desa tangguh bencana yang mandiri dalam menghadapi ancaman Karhutla di masa mendatang.












