Gantung, Belitung Timur – Udara di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, mendadak terasa lebih pekat dari biasanya. Hari itu Jum’at (7/8/2026) gemuruh puluhan motor, mobil dan truk terbuka tidak hanya membawa ribuan penambang rakyat, tetapi juga membawa akumulasi kekecewaan yang telah berbulan-bulan terpendam akibat matinya urat nadi perekonomian lokal, stagnasi harga dan rantai pasok pasir timah.
Ketika api mulai menjilat area luar kantor operasional PT Timah Tbk dan asap hitam membubung ke langit Gantung, sebuah titik krusial penentu kamtibmas sedang berlangsung beberapa ratus meter di seberangnya yaitu Gudang Bijih Timah (GBT) 5. Di sinilah riak anarki hampir saja berubah menjadi bencana penjarahan massal jika tidak diadang oleh barikade taktis gabungan TNI-Polri.
Di garis depan pengamanan objek vital tersebut, tampak Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0414/Belitung, Mayor Cke Ihsan, yang hadir mewakili Dandim 0414/ Belitung, Letkol Inf Rahman Safii Tanjung. Mengenakan seragam loreng yang basah oleh keringat di bawah terik matahari Belitung Timur yang menyengat, perwira menengah TNI yang dikenal dekat dengan masyarakat lokal ini memilih pendekatan yang tidak biasa di tengah kepungan massa.
Ketika beberapa oknum massa mulai melakukan pelemparan batu ke arah gudang penyimpanan dan mencoba merangsek memindahkan kampil-kampil (karung) bijih timah melewati pagar pembatas, Mayor Cke Ihsan bersama Kapolres Belitung Timur, AKBP Dr Husni Tamrin menolak untuk langsung mengambil tindakan represif yang berisiko menumpahkan darah. Beliau justru melangkah maju tanpa senjata, berdiri di antara barikade tameng polisi dan riuhnya teriakan para penambang.
“Ini bukan sekadar soal mengamankan aset negara, ini tentang menyelamatkan saudara-saudara kita dari tindakan keliru karena urusan isi perut,” bisik Mayor Ihsan kepada salah satu komandan kompi di lapangan, sebuah fragmen instruksi internal yang memperlihatkan ketenangan komando di tengah situasi kritis.
Dengan lantang tanpa pengeras suara, suara Mayor Ihsan memecah ketegangan. Ia memanggil para tokoh penambang, mengingatkan mereka akan esensi perjuangan mereka yang murni untuk menuntut regulasi pembelian, bukan untuk menjadi pelaku kriminal lewat penjarahan. Diplomasi persuasif di tengah kepulan asap ban bekas terbakar itu berjalan alot. Sembari pasukan gabungan memperketat formasi pertahanan, Kasdim Mayor Cke Ihsan terus membuka ruang komunikasi hingga eskalasi massa berhasil diredam tanpa korban jiwa.
Bara api di lapangan yang berhasil dijinakkan segera bergeser ke ranah kebijakan hukum pada hari berikutnya, Sabtu (8/8/2026). Menyadari bahwa ketenangan di akar rumput bersifat sementara tanpa adanya solusi konkret, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung langsung mengambil inisiatif cepat dengan menggelar rapat koordinasi darurat secara tertutup di ruang rapat Bupati Belitung Timur.
Ruang pertemuan tersebut menjadi saksi transisi krusial dari pengamanan fisik menuju resolusi regulasi. Di antara deretan pejabat tinggi daerah, tampak hadir Mayor Cke Ihsan yang kembali mengemban mandat penuh mewakili Dandim 0414/Belitung, Letkol Inf Rahman Safii Tanjung untuk mengawal jalannya negosiasi dari kacamata pertahanan wilayah.
Rapat tertutup yang berlangsung selama hampir 3 jam ini berjalan sangat alot, mempertemukan tiga kepentingan besar: tuntutan ekonomi rakyat terkait pembukaan meja goyang dan harga, kepatuhan hukum PT Timah Tbk, dan kepastian stabilitas keamanan yang dijaga TNI-Polri.
Dalam kesempatan tersebut, Kasdim Mayor Cke Ihsan memberikan masukan strategis dari perspektif intelijen dan teritorial Kodim 0414/Belitung. Beliau menekankan bahwa kesepakatan di atas kertas harus segera diimplementasikan secara transparan agar tidak memicu distorsi informasi di tingkat penambang bawah.
“Kami di lapangan memastikan stabilitas fisik, namun kepastian regulasi di atas meja inilah yang akan menjadi pengunci perdamaian jangka panjang di Belitung Timur,” tegas perwira berlatar belakang korps perhubungan tersebut di hadapan Gubernur, Bupati, dan manajemen badan usaha milik negara itu.
Ketukan palu kesepakatan akhirnya tercapai menjelang sore hari. Rapat tertutup itu menelurkan komitmen bersama bahwa PT Timah Tbk akan segera membuka kembali aktivitas pembelian pasokan timah dari mitra dengan penyesuaian harga baru yang lebih manusiawi bagi para penambang rakyat. Pemerintah daerah juga berkomitmen mempercepat pengurusan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) ke tingkat pusat.
Kendati kesepakatan formal telah tercapai di meja hijau, Dandim 0414/Belitung tidak ingin kecolongan oleh potensi riak susulan di lapangan. Melalui Kasdim Mayor Cke Ihsan, komando atas langsung menginstruksikan dengan sangat tegas kepada seluruh jajaran Koramil di bawah naungan Kodim 0414/Belitung untuk tidak menurunkan ritme kewaspadaan. Seluruh personel Babinsa dan unit intelijen diperintahkan untuk tetap melakukan pengawasan ketat serta bersiaga penuh di setiap STP (Stasiun Pengumpul) guna menjamin tidak ada mobilisasi massa ilegal maupun gesekan baru yang dapat merusak kondusivitas yang baru saja pulih.
Langkah taktis yang dimulai dari keberanian Kasdim Mayor Cke Ihsan berdiri menghalau amuk massa di gerbang GBT 5, hingga partisipasi aktifnya dalam diplomasi senyap di ruang rapat Bupati Beltim pada hari berikutnya, menjadi bukti nyata bagaimana sinergi komando kewilayahan TNI mampu bertindak cepat sebagai jembatan penengah di tengah konflik agraria dan ekonomi terbesar di Belitung tahun ini.












