JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Kekayaan alam kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, tidak hanya menjadi magnet pariwisata. Potensi tersebut juga diolah masyarakat menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi yang ditampilkan dalam ajang Kriya Nusa 2026.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Raja Ampat, Fransiska Wanma, mengatakan pihaknya membawa sejumlah produk kerajinan yang merepresentasikan karakter daerah kepulauan, terutama kerajinan berbahan kulit kerang dan noken berbahan daun pandan.
“Untuk tahun 2026, bahan-bahan yang kami tampilkan lebih banyak ke kerajinan dari kulit-kulit kerang. Ada juga noken-noken yang dibuat dari daun pandan. Ini hasil dari kami karena kami daerah kepulauan,” ujar Fransiska.
Kerajinan berbahan kerang tersebut diolah menjadi beragam aksesori, mulai dari kalung, bros hingga aksesori kepala. Produk-produk tersebut dipasarkan di wilayah Raja Ampat, terutama melalui berbagai festival dan kegiatan daerah. Tidak sedikit pula pengunjung dari luar daerah yang tertarik membeli produk kerajinan tersebut.
Harga produk cukup beragam, mulai sekitar Rp20 ribu hingga mencapai Rp250 ribu, tergantung jenis dan bentuk kerajinan.
Menurut Fransiska, ekosistem UMKM di Raja Ampat saat ini cukup berkembang. Secara keseluruhan terdapat lebih dari 500 pelaku UMKM yang mendapatkan pembinaan dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), antara lain Dinas Koperasi, Pemberdayaan Perempuan dan Perindustrian serta Perdagangan.
“Kalau kami bilang, UMKM cukup hidup,” katanya.
Meski demikian, produk kerajinan Raja Ampat hingga kini belum menembus pasar ekspor. Fransiska mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dibenahi, khususnya terkait kemampuan sumber daya manusia, pemasaran dan pemanfaatan teknologi.
Ia berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi juga diperkuat melalui peningkatan pelatihan bagi pelaku UMKM, terutama dalam penguasaan teknologi.
“Kami menyadari teknologi saat ini memang kami agak terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk belajar,” ujarnya.
Dukungan pembiayaan juga terus dibangun melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, bank daerah, serta sejumlah perusahaan swasta yang beroperasi di Raja Ampat.
Fransiska menegaskan pengembangan UMKM memiliki posisi strategis karena harus berjalan beriringan dengan sektor pariwisata. Sebagai daerah tujuan wisata, produk kerajinan, kuliner hingga usaha homestay diarahkan untuk ikut memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan wisatawan.
“Berbagai program kegiatan kami arahkan khususnya untuk pelaku UMKM agar bisa menunjang kegiatan pariwisata,” kata Fransiska.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, lembaga keuangan dan sektor swasta dapat terus diperkuat sehingga pelaku UMKM Raja Ampat tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga semakin siap memperluas pasar ke tingkat nasional dan, ke depan, internasional. (f/red)












