JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sulawesi Selatan terus melakukan pembenahan organisasi dan memperkuat pembinaan atlet sebagai bagian dari upaya mengembalikan kejayaan pencak silat Sulawesi Selatan di level nasional hingga internasional.
Sekretaris Umum IPSI Sulawesi Selatan, Ayuzar, S.T., S.H., M.H., mengatakan pembenahan organisasi menjadi salah satu fondasi penting untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Menurut Ayuzar, seluruh 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan kini telah memiliki kepengurusan IPSI. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat koordinasi serta pembinaan pencak silat secara berjenjang.
“Beberapa tahun terakhir memang ada penurunan, tetapi sekarang kita sedang berbenah. Dari 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan, semuanya sudah terbentuk kepengurusan IPSI,” ujar Ayuzar, ketika diwawancara di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, disela acara pelantikan pengurus sekaligus Munas IPSI 2026 baru-baru ini (5/9).
Ia berharap perbaikan manajemen organisasi tersebut dapat berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas atlet yang nantinya membawa nama Sulawesi Selatan di berbagai kejuaraan.
“Harapan kita dengan perbaikan manajemen organisasi, ke depan bisa memberikan kontribusi positif terhadap atlet-atlet yang akan mewakili Provinsi Sulawesi Selatan dan diharapkan juga bisa mewakili Indonesia di kancah internasional,” katanya.
Optimisme tersebut semakin kuat seiring dengan semakin terbukanya peluang pencak silat menuju Olimpiade. Ayuzar menegaskan Sulawesi Selatan tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam proses tersebut.
“Apalagi sekarang ini pencak silat road to Olympic. Kita berharap Sulawesi Selatan bisa menjadi bagian dari itu,” tegasnya.
Pembinaan Tetap Berjalan di Tengah Efisiensi, Ayuzar mengakui dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan olahraga. Namun, di tengah kondisi efisiensi anggaran saat ini, IPSI Sulawesi Selatan memilih untuk tetap bergerak secara mandiri bersama perguruan-perguruan pencak silat.
Ia menegaskan, pembinaan atlet sejatinya tidak hanya bertumpu pada struktur IPSI, tetapi juga berada di tangan perguruan-perguruan yang selama ini menjadi ujung tombak pembinaan pesilat.
“Secara mandiri kita tetap melakukan pembinaan. Teman-teman di daerah, di kabupaten/kota, juga masih aktif melakukan pembinaan,” ujarnya.
“Karena sebenarnya pembinaan itu bukan di IPSI-nya, tetapi lebih terpusat kepada perguruan-perguruan yang membina atlet ataupun pesilatnya,” lanjut Ayuzar.
Porprov Jadi Panggung Seleksi Atlet
Untuk menghadapi agenda kompetisi nasional ke depan, IPSI Sulawesi Selatan juga mulai mematangkan persiapan. Salah satu momentum penting adalah pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) pada November 2026.
Ayuzar menyebut Porprov akan menjadi salah satu sumber utama dalam proses pemetaan dan seleksi atlet potensial Sulawesi Selatan yang diproyeksikan tampil pada Pra-PON.
“November tahun ini kita melakukan Porprov. Harapan kita dari hasil itu bisa menjadi salah satu sumber untuk menyeleksi atlet yang akan kita terjunkan di Pra-PON nantinya,” jelasnya.
Dengan demikian, Porprov tidak hanya dipandang sebagai kompetisi antardaerah, tetapi juga menjadi bagian dari jalur regenerasi dan pencarian atlet berprestasi.
Cari Bibit Sejak Usia Dini
Selain memperkuat organisasi dan menyiapkan atlet senior, IPSI Sulawesi Selatan juga memberi perhatian besar terhadap pemasalan pencak silat sejak usia dini.
Sejak 2024, berbagai kejuaraan digelar sebagai sarana memperkenalkan sekaligus menjaring bibit-bibit pesilat potensial, mulai dari kategori usia dini, remaja hingga dewasa.
Beberapa kejuaraan yang telah menjadi bagian dari agenda tersebut antara lain Hasanuddin Championship yang digelar setiap tahun di Makassar dan Habibie Championship di Kota Parepare.
Tidak berhenti di sana, IPSI Sulawesi Selatan juga akan menggelar Arung Palakka Championship pada 25 September 2026, yang secara khusus diharapkan menjadi wadah pencarian bibit-bibit baru.
“Arung Palakka Championship itu sebenarnya untuk mencari bibit-bibit anak-anak usia pemula,” kata Ayuzar.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan prestasi pencak silat tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari pemasalan, pembibitan, pembinaan hingga pembentukan atlet berprestasi.
Dorong Pencak Silat Masuk Sekolah
Sebagai anggota Bidang Organisasi Pengurus Besar IPSI, Ayuzar juga membawa aspirasi daerah dalam Rakernas IPSI.
Ia berharap kebijakan PB IPSI ke depan semakin menyentuh kebutuhan pengurus di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Salah satu yang dinilai sangat strategis adalah membuka ruang lebih luas bagi pencak silat untuk masuk ke lingkungan pendidikan.
“Harapan kita perhatian PB IPSI bisa lebih menyentuh sampai ke tingkat provinsi,” ujarnya.
Ia juga mendorong lahirnya rekomendasi Rakernas yang dapat menjadi landasan bagi pengembangan pencak silat di sekolah-sekolah.
“Harapan kita ada rekomendasi yang lahir di Rakernas ini, sehingga bisa kita jadikan semacam wildcard untuk masuk ke sekolah-sekolah di daerah masing-masing,” katanya.
Menurutnya, pendidikan dapat menjadi ruang strategis untuk memperluas basis pencak silat sekaligus membangun regenerasi pesilat nasional.
Bagi IPSI Sulawesi Selatan, targetnya bukan sekadar memperbanyak kejuaraan. Lebih jauh, pembenahan organisasi, penguatan perguruan, pemasalan sejak dini, kompetisi berjenjang dan perluasan pencak silat ke dunia pendidikan diarahkan pada satu tujuan: melahirkan pesilat Sulawesi Selatan yang mampu berbicara di level nasional dan menjadi bagian dari perjalanan pencak silat menuju Olimpiade. (f/red)












