JEPARA, MEDIAKOTA.COM — Persaingan industri furniture yang semakin ketat dan tuntutan harga yang kian kompetitif mendorong Asosiasi Pengrajin Kayu Jepara (APKJ) mengajak pelaku UMKM furniture mulai beralih dari pola produksi manual menuju penggunaan mesin.
APKJ yang kini beranggotakan sekitar 111 pelaku usaha menilai modernisasi menjadi kebutuhan penting untuk menekan harga pokok produksi (HPP), meningkatkan efisiensi, sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.
“Persaingan harga hari ini luar biasa. Ini memaksa UMKM berpikir bagaimana meng-upgrade dirinya ke mesin,” ujar perwakilan APKJ.
Menurutnya, produksi yang masih mengandalkan tenaga manusia secara dominan membuat biaya produksi relatif tinggi. Kondisi tersebut semakin sulit dipertahankan ketika pelaku usaha harus berhadapan dengan kompetitor yang telah menggunakan pola produksi berbasis industri.
Karena itu, APKJ turut memanfaatkan pameran industri untuk melihat perkembangan teknologi dan mesin yang dapat diterapkan pada sektor furniture. Langkah tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi anggota APKJ untuk melakukan migrasi teknologi secara bertahap.
Namun, investasi mesin bukan perkara ringan bagi UMKM. Harga sejumlah mesin produksi dapat mencapai sekitar Rp100 juta hingga Rp150 juta per unit, sehingga dibutuhkan kesiapan modal bagi pelaku usaha yang ingin melakukan modernisasi.
“Memang investasi di mesin cukup mahal. Tetapi mau tidak mau kita dipaksa mengikuti pola industri karena persaingan furniture semakin ketat dan semakin murah,” katanya.
Di sisi lain, modernisasi tidak berarti menghapus produk furniture yang mengandalkan sentuhan seni dan keterampilan tangan. APKJ menyadari masih terdapat pasar untuk produk ukiran dan furniture bernilai artistik, meski segmennya dinilai lebih terbatas dibandingkan permintaan terhadap desain minimalis dan fungsional.
“Klaster produk furniture berada di posisi yang berbeda-beda. Untuk seni ukir memang ada peminatnya dan masih kita pertahankan. Tetapi untuk pengembangan bisnisnya cukup berat karena demand terhadap furniture ukiran penuh tidak sebanyak model minimalis,” jelasnya.
Menurut APKJ, perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor yang harus dibaca pelaku usaha. Sebagian konsumen kini lebih mengutamakan fungsi, desain sederhana, dan efisiensi harga.
Meski demikian, APKJ menegaskan tetap mengayomi pelaku furniture tradisional dan pengrajin yang mempertahankan nilai seni dalam produknya.
Modernisasi, bagi APKJ, bukan semata-mata menggantikan tangan manusia dengan mesin, melainkan menyesuaikan proses produksi dengan perubahan pasar tanpa meninggalkan keberagaman karakter industri furniture Jepara. (f/red)












