Jakarta, MEDIAKOTA.COM,-
Kain batik bermotif ikan seluang mulai menjadi salah satu identitas kerajinan khas Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), produk lokal tersebut terus didorong agar tidak hanya dikenal di daerah, tetapi mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara.
Ketua Dekranasda Kabupaten Barito Utara, Hj. Maya Savitri Shalahuddin, mengatakan pembinaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus dilakukan. Saat ini, sekitar 10 pelaku UMKM di sejumlah wilayah, seperti Muara Teweh, Lampleong, dan Benangin, mendapat pendampingan.
Dalam pameran, Dekranasda Barito Utara memperkenalkan sejumlah produk unggulan, mulai dari kain batik hingga kerajinan berbahan rotan.
“Kami memperkenalkan kain-kain batik dan kerajinan rotan khas dari daerah kami,” ujar Maya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah batik dengan motif ikan seluang. Motif tersebut diangkat dari kekayaan alam sekaligus menjadi ikon khas Barito Utara.
“Kain batik khas kami ikonnya adalah ikan seluang. Proses pembuatannya secara handmade memakan waktu sekitar tiga minggu untuk satu helai kain,” katanya.
Lamanya proses produksi menunjukkan tingginya unsur keterampilan dan ketelitian yang dibutuhkan para pengrajin. Setiap helai kain dikerjakan secara manual dengan memperhatikan detail motif dan bahan yang digunakan.
Tak hanya batik, produk kerajinan rotan juga menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif masyarakat Barito Utara.
Menurut Maya, tantangan pengembangan UMKM salah satunya adalah kondisi geografis. Sejumlah sentra pengrajin berada cukup jauh dari pusat pemerintahan. Perjalanan menuju lokasi pengrajin bahkan dapat memakan waktu sekitar tiga jam, sedangkan dari ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah perjalanan bisa mencapai tujuh hingga delapan jam.
Meski demikian, keterbatasan jarak tidak menghentikan upaya memperluas pasar. Produk kerajinan Barito Utara kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah di luar Kalimantan Tengah.
Bahkan, sebagian produk disebut telah masuk pasar ekspor melalui jaringan para pengrajin.
“Sebagian produk sudah ada yang diekspor melalui jaringan teman-teman pengrajin, dan kami juga aktif mengikuti pameran-pameran seperti di Bali,” ujar Maya.
Dari sisi harga, produk batik dan kerajinan khas Barito Utara ditawarkan mulai sekitar Rp250 ribu. Nilai tersebut bergantung pada tingkat kerumitan motif dan jenis bahan yang digunakan.
Dekranasda berharap keikutsertaan dalam berbagai pameran dapat membuka akses pasar sekaligus memperkuat posisi produk lokal Barito Utara.
Maya juga mendorong para pelaku UMKM, khususnya pengrajin perempuan, untuk terus meningkatkan kreativitas dan kapasitas produksi.
“Saya berharap UMKM di daerah kami bisa lebih maju, semakin banyak berkarya, dan tentunya bisa menambah pendapatan keluarga ibu-ibu di sana,” pungkasnya.(f/red)












