JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Kerajinan anyaman rotan masyarakat Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terus didorong untuk naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas. Produk kerajinan berbasis rotan tersebut menjadi salah satu karya unggulan yang diperkenalkan dalam ajang pameran kerajinan nasional.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Seruyan, Adi Annur, mengatakan produk yang ditampilkan merupakan hasil kerajinan tangan masyarakat Seruyan yang masih mempertahankan proses produksi secara manual.
“Produk kita ini asli dari masyarakat Seruyan. Rotannya dibuat dan dianyam dengan tangan, masih handmade,” ujar Adi Annur.
Menurutnya, pengembangan kerajinan saat ini tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan ekonomi. Para perajin cenderung menyesuaikan bentuk dan model produk dengan tren yang memiliki permintaan pasar tinggi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi, produk dengan motif tradisional perlu dipertahankan sebagai identitas daerah. Namun di sisi lain, perajin juga harus memastikan produknya memiliki nilai jual dan mampu diterima konsumen.
“Kita tentunya ingin produk itu berkembang dan masyarakat menghasilkan. Jadi memang ada penyesuaian dengan model yang laku di pasar,” katanya.
Salah satu keunggulan produk Seruyan terletak pada proses pembuatannya. Untuk menghasilkan satu tas rotan, seorang perajin bahkan membutuhkan waktu hingga sekitar tiga hari, karena seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual.
Tak hanya mengandalkan bahan lokal, pengembangan produk juga dilakukan melalui kolaborasi dan peningkatan kapasitas perajin. Saat ini, kata Adi, terdapat sekitar 15 pelaku IKM binaan yang dilibatkan, sementara lima perajin telah mendapatkan pelatihan hingga ke Kabupaten Garut.
Dalam kolaborasi tersebut, kulit tas didatangkan dari Garut, sementara bagian anyamannya tetap menggunakan karya perajin Seruyan.
Produk kerajinan tersebut juga mulai diperkenalkan ke pasar internasional. Meski belum melakukan ekspor secara langsung, produk Seruyan pernah dibawa dalam kegiatan di Italia melalui jejaring pelatihan dan pembinaan perajin.
Dari sisi harga, tas anyaman rotan yang dibawa dalam pameran tersebut berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung model dan tingkat kerumitan pengerjaannya.
Namun, bagi Seruyan, kekuatan utama produk bukan sekadar harga.
Identitas budaya justru menjadi nilai yang ingin terus dipertahankan.
Adi menyebut salah satu motif anyaman khas Seruyan dikenal dengan nama “Indu Menangis” atau “Ibu Menangis”. Nama tersebut muncul karena tingkat kerumitan motifnya yang membuat proses pengerjaan membutuhkan ketelitian dan keterampilan tinggi.
“Motifnya lebih sulit. Istilahnya, kalau membuatnya bisa bikin orang yang menganyam menangis. Karena memang sulit,” ujarnya.
Melalui keikutsertaan dalam pameran, Pemerintah Kabupaten Seruyan berharap kerajinan lokal tidak hanya semakin dikenal, tetapi juga membuka akses pasar baru bagi para pelaku IKM.
“Harapannya produk kerajinan kita bisa berkembang, menambah pengetahuan bagi kami, dan semakin terbuka pangsa pasar untuk produk kita ke depan,” kata Adi. (f/red)












