Inovasi Prajurit Kodam V/Brawijaya: 12 Produk Pupuk Cair Siap Diperluas ke Seluruh Indonesia

JAKARTA, MEDIAKOTA.COM —
Inovasi prajurit TNI Angkatan Darat tak hanya hadir di medan tugas. Dari wilayah Kodam V/Brawijaya, Jawa Timur, lahir terobosan di bidang pertanian berupa sejumlah produk pupuk cair yang dikembangkan secara mandiri untuk membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya bagi petani.

Produk tersebut menjadi salah satu inovasi yang ditampilkan dalam pameran di stan Pusterad dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI.
Prajurit yang terlibat dalam pengembangan produk tersebut mengungkapkan, pupuk cair yang dihasilkan terdiri atas produk organik maupun nonorganik.

Kualitasnya disebut telah melalui pengujian, baik di tingkat petani maupun laboratorium.

“Kami dari wilayah Kodam V/Brawijaya, Jawa Timur, menampilkan produk-produk pupuk cair untuk pertanian, baik organik maupun nonorganik. Sudah teruji kualitasnya, baik di petani maupun di uji lab,” ujarnya.

Menariknya, pengembangan produk tersebut dilakukan secara mandiri oleh TNI, tanpa menggantungkan pembiayaan maupun riset kepada pemerintah daerah.

“Murni dari TNI. Kami riset sendiri, biaya sendiri juga,” tegasnya.

Saat ini, produk tersebut juga telah memiliki pasar. Pengembang berharap inovasi tersebut tidak berhenti di wilayah Jawa Timur, tetapi dapat dikembangkan dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat pertanian di berbagai daerah di Indonesia.

Dukungan dari pimpinan TNI AD juga dinilai menjadi faktor penting dalam memperkenalkan inovasi tersebut kepada masyarakat. Produk-produk itu beberapa kali dibawa dalam berbagai kegiatan dan pameran, termasuk melalui stan Pusterad.

“Dukungan dari TNI sangat bagus, sangat mendukung. Saya juga berterima kasih kepada atasan saya, TNI Angkatan Darat, yang selalu menampilkan di event-event besar seperti pameran-pameran stan Pusterad,” katanya.

Dari sisi produk, terdapat sekitar 12 item yang dikembangkan. Beberapa di antaranya disebut dengan nama Booster Padi, Biotop, Super Biotop, Efisien, dan Hamas.

Tak hanya mengedepankan kualitas, inovasi tersebut juga membawa misi menghadirkan produk pertanian dengan harga yang lebih terjangkau.
Menurutnya, harga sejumlah produk pembasmi hama di pasaran dapat mencapai lebih dari Rp100 ribu. Sementara produk yang mereka kembangkan disebut memiliki harga jual paling tinggi sekitar Rp25 ribu.

“Kalau untuk hama itu biasanya di atas 100, kalau kami jual paling mahal 25,” ujarnya.

Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu keunggulan yang ingin ditawarkan kepada petani, terutama di tengah kebutuhan terhadap produk pertanian yang efektif namun tetap ekonomis.

Ke depan, ia berharap dukungan pimpinan TNI AD terhadap hasil inovasi prajurit dapat terus diperkuat sehingga produk tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pameran, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian dan masyarakat luas,” harapnya. (f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!