PELURU BATU, TAMENG JIWA Catatan Sunyi Keberanian Danramil Gantung di Tengah Amuk Massa Ke PT Timah

Gantung, Belitung Timur – Udara di sekitar Kantor Unit Produksi PT Timah Tbk Wilayah Belitung Timur mendadak pekat dan mencekam. Jarum jam baru saja melewati angka satu siang pada Jum’at (7/8/2026) ketika gelombang amarah ribuan penambang rakyat yang semula tertahan, pecah menjadi kerusuhan massal yang mengerikan. Pekikan tuntutan harga timah seketika berubah menjadi gemuruh anarkis. Pagar besi roboh diterjang massa, disusul kepulan asap hitam yang mulai membubung tinggi dari pos penjagaan dan Gudang GBT 5 yang dibakar. Udara siang itu terasa membakar, dipenuhi debu tanah, hawa panas api, dan desing material tajam yang beterbangan bebas di udara.

Batu-batu sebesar kepalan tangan, balok kayu, hingga botol kaca melayang bak peluru nyasar, menghantam apa saja yang menghalangi amuk massa. Di tengah kekacauan yang tak terkendali itu, armada pemadam kebakaran bahkan dipaksa mundur setelah dihujani lemparan. Situasi benar-benar di ambang batas bahaya.

Di sudut barat area perkantoran yang terdesak, empat orang awak media terjebak dalam jebakan maut yang mengancam nyawa. Mereka terkunci di titik buta, terkepung di antara amarah massa dan pecahan kaca. Di depan mereka, ratusan massa yang kalap terus merangsek maju sembari melempar benda-benda keras, sementara di samping hanya ada batas medan yang tinggi dan massa yang melempari kearah mereka.

Dalam kondisi panik dan terdesak, salah seorang jurnalis dari Pos Belitung bahkan nekat meloncat ke bawah demi menyelamatkan diri yang sebelumnya tertelungkup menghindar dan meraba raba keberadaan kacamata yang sempat terjatuh tanpa memedulikan lagi tingginya medan berbahaya yang ada di hadapannya saat itu.

Sementara rekan-rekan media lainnya yang tersisa hanya bisa mendekap kamera dan Hp erat-erat di dada. Bukan lagi untuk mengamankan rekaman berita, melainkan menjadikannya perisai rapuh pelindung kepala dari hantaman batu. Ketakutan nyata tergambar di wajah para pemburu berita yang terkunci tanpa jalan keluar ini.

Tepat pada detik-detik paling kritis, saat keselamatan keempat awak media berada di ujung tanduk, sesosok pria berseragam loreng bergerak memotong arus bahaya tanpa keraguan sedikit pun. Ia adalah Danramil 414-03/Gantung, Peltu Arifianto.

Melihat ada nyawa yang terancam, naluri keprajuritannya langsung mengambil alih. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Peltu Arifianto menerobos hujan batu dan memosisikan tubuhnya tepat di garis depan, berdiri kokoh, membungkukkan badan diatas awak media yang berlindung di bawah meja yang ketakutan dari massa yang beringas.

“Masuk ikuti saya! Jangan ada yang berpencar! Tetap merunduk!,” teriaknya membelah riuh kebisingan. Suaranya bariton, tegas, berwibawa, dan seketika menyalurkan secercah kepastian di tengah kepanikan yang akut.

Dengan sigap dan bertenaga, tangan kekar sang Danramil menarik para jurnalis yang gemetar, mengomandoi mereka untuk berlindung dan mengevakuasi awak media keluar ke zona aman. Sebuah balok kayu melayang keras dan mendarat tepat di dekat kakinya, disusul batu dan pecahan botol yang hancur berkeping-keping di sekitarnya. Namun, mata Peltu Arifianto tidak berkedip sedikit pun.

Pandangannya tajam memediasi situasi, menyapu bersih setiap ancaman demi memastikan perimeter aman bagi evakuasi. Fokusnya mutlak : memastikan keempat pembawa berita ini bisa pulang ke rumah menemui keluarga mereka dengan selamat.

Melalui tindakan heroik di bawah kepungan massa yang anarkis di halaman kantor PT Timah siang itu, Peltu Arifianto memberikan pelajaran berharga tanpa perlu banyak bicara. Bagi seorang prajurit sejati, membela negara tidak selalu berarti mengangkat senjata di medan perang. Hari itu, membela negara adalah tentang kerelaan meletakkan nyawa sendiri sebagai taruhan untuk melindungi mereka yang sedang bertugas menyuarakan kebenaran. Di balik riuh kepulan asap dan amuk massa di Gantung, Peltu Arifianto telah menuliskan narasi luhurnya sendiri, sebuah catatan sunyi tentang dedikasi tanpa batas dari seorang abdi negara sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!