Asa Baru Hari Mangrove Sedunia Beltim di Tengah Bayang-Bayang Tanam Tinggal dan Tambang Ilegal

DAMAR, BELITUNG TIMUR – Suara deburan ombak di Pantai Kuale Tambak, Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, berpadu riuh dengan langkah kaki ratusan orang yang menerobos pekatnya lumpur pesisir. Jumat pagi (31/7/2026), Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menggelar aksi penanaman bibit hijau dalam rangka Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026.

Dipimpin langsung oleh Bupati Belitung Timur dan unsur perwakilan forkopimda, pergerakan ini didampingi jajaran pembuat kebijakan utama. Mulai dari Asisten Bidang Administrasi Umum, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH), Kepala Satpol PP, hingga Camat Damar serta pegiat mangrove dan para pelajar.

Namun, kegiatan tahunan ini tidak berjalan seperti biasa. Di balik riuhnya dokumentasi seremonial, sebuah kritik mendasar membayangi jalannya acara. Akankah ribuan bibit ini bernasib sama dengan tahun-tahun lalu yaitu ditanam, difoto, lalu ditinggal mati dihantam ombak?

Fenomena “tanam tinggal” (hit and run) inilah yang disuarakan lantang oleh Yudi Amsoni Ketua Komunitas Akar Bakau sekaligus nelayan lokal Desa Sukamandi. Bagi pria yang akrab disapa Yudi Senga ini, menyelamatkan ekosistem pesisir memerlukan komitmen jangka panjang, bukan sekadar menggugurkan kewajiban serapan anggaran.

“Mangrove ini bukan properti foto. Menanam itu hanya 10 persen pekerjaan, 90 persen sisanya adalah merawat, menyulam bibit yang mati, dan melindunginya dari kehancuran. Kalau habis ditanam lalu ditinggal begitu saja, kegiatan hari ini hanya buang-buang uang rakyat,” ujar Yudi dengan nada getir.

Perjuangan Yudi mempertahankan sisa hutan mangrove di desanya bukanlah tanpa rintangan. Di hadapan awak media, terungkap realitas kelam di mana konsistensi Yudi dalam melaporkan perusakan lingkungan sering kali dibayar mahal dengan berbagai bentuk intimidasi, persekusi, hingga teror dari oknum penambang liar. Kendati berulang kali diiming-imingi suap materi dalam jumlah besar, termasuk tawaran uang tunai hingga mobil agar dirinya mau menutup mata. Yudi memilih bergeming demi masa depan ruang hidup nelayan tradisional.
Selain pengawasan, Yudi juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada kesadaran moral masyarakat, khususnya pembentukan karakter peduli lingkungan sejak usia sekolah.

“Generasi muda dari mulai tingkat SD, SMP, SMA harus lebih sering dilibatkan dalam acara-acara penanaman pohon, bersih pantai, maupun edukasi lingkungan. Sehingga ke depan lebih banyak lagi generasi penerus yang peduli akan kelestarian alam,” tambah Yudi, menegaskan perlunya regenerasi pejuang lingkungan di Belitung Timur.

Yudi juga menyoroti kontradiksi besar yang terjadi di Belitung Timur. Di satu sisi, pemerintah gencar mengkampanyekan gerakan menanam pohon. Di sisi lain, aktivitas tambang timah ilegal jenis rajuk tower masih terus menggerogoti Daerah Aliran Sungai (DAS) dan merusak benteng pertahanan pesisir secara masif. Padahal, di tengah lesunya tata niaga timah saat ini, ekosistem mangrove yang sehat adalah tumpuan ekonomi alternatif nelayan tradisional untuk mencari kepiting bakau (nyulo) dan ikan.

Merespons kritik tajam tersebut, Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten menegaskan bahwa Pemkab Beltim kini merubah total strategi pelestarian lingkungan. Pemerintah berkomitmen menghapus stigma “tanam tinggal” dengan memberlakukan skema pengawasan berbasis digital dan melibatkan kelompok nelayan lokal sebagai garda utama perawatan pasca-acara.

“Kami mendengar keresahan masyarakat. Mulai hari ini, Dinas LH bersama Pemerintah Kecamatan Damar diwajibkan melakukan monitoring. Kita akan hitung tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit yang ditanam hari ini. Satpol PP juga akan kami instruksikan untuk memperketat patroli guna memastikan kawasan Kuale Tambak bersih dari jamahan tambang ilegal,” tegas Bupati Beltim Kamarudin Muten.

Melalui integrasi ketat antara penegakan hukum dari Satpol PP, pengawasan teknis Dinas LH, serta keterlibatan organik komunitas lokal, peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Belitung Timur diharapkan menjadi lembaran baru. Pantai Kuale Tambak kini memikul harapan besar: menjadi benteng hijau sejati yang tidak hanya melindungi daratan dari abrasi, tetapi juga menghidupkan kembali ekonomi berkelanjutan masyarakat pesisir Belitung Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!