JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,— Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang warisan leluhur. Budaya harus tetap hidup, dikenakan, diperkenalkan, sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Semangat inilah yang terus digaungkan Rahmi Hidayati, Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia, melalui gerakan berkebaya dan dukungan terhadap kain tenun tradisional Nusantara.
Menurut Rahmi, kebaya dan kain tradisional bukan sekadar busana, melainkan bagian dari identitas bangsa yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan ekonomi. Salah satu kekayaan budaya yang patut mendapat perhatian adalah kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dibuat melalui keterampilan tangan dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Ia menilai kain tenun memiliki nilai istimewa karena proses pembuatannya tidak bisa disamakan dengan produk tekstil massal buatan pabrik.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu kain ditawarkan melalui lelang dengan harga Rp2,5 juta. Sementara itu, menurut Rahmi, harga kain serupa di luar kegiatan tersebut dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp6 juta.
“Budaya kita, apa pun bentuknya, harus kita lestarikan bersama-sama. Kebaya juga berkaitan dengan kain, baik batik maupun tenun. Selain menjaga budaya, kita ingin membantu meningkatkan perekonomian saudara-saudara kita,” ujar Rahmi.
Berkebaya Bukan Penghalang Aktivitas
Bagi Rahmi, melestarikan kebaya bukan sekadar mengenakannya dalam acara resmi atau kegiatan seremonial. Ia justru ingin membuktikan bahwa kebaya tetap relevan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan ketahanan fisik.
Pengalamannya mengenakan kebaya saat mendaki Gunung Gede Pangrango menjadi salah satu titik awal yang memperkuat keyakinannya. Ia mengaku mampu mengenakan kebaya sejak berangkat dari rumah, mendaki hingga mencapai puncak, turun kembali, dan pulang tanpa harus mengganti busana tersebut.
Pengalaman itu mengingatkannya pada perempuan-perempuan Indonesia pada masa lalu yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan kebaya, mulai dari bekerja di sawah hingga membawa hasil panen untuk dijual ke pasar.
Rahmi juga pernah mengenakan kebaya ketika bersepeda mengelilingi Danau Toba dan kawasan kaki Gunung Rinjani.
Baginya, kebaya tidak semestinya dipandang sebagai busana yang membatasi gerak perempuan. Sebaliknya, kebaya dapat menjadi simbol kebanggaan sekaligus bentuk nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Melalui gerakan Perempuan Berkebaya Indonesia, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat agar kebaya tidak hanya dikenakan pada acara tertentu, tetapi juga menjadi bagian dari keseharian.
Lelang Kain untuk Kepedulian Sosial
Tak berhenti pada pelestarian budaya, kegiatan tersebut juga membawa misi kemanusiaan. Rahmi menyampaikan bahwa hasil lelang kain direncanakan untuk disumbangkan kepada masyarakat di NTT yang sedang menghadapi berbagai musibah.
Langkah ini menjadi bentuk kepedulian agar kegiatan budaya tidak hanya menghasilkan apresiasi terhadap warisan leluhur, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Rahmi, pelestarian budaya dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan. Kain tradisional yang memiliki nilai seni dan ekonomi dapat menjadi sarana untuk menggalang dukungan bagi masyarakat, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi pengenalan produk budaya daerah.
Ia menegaskan, Perempuan Berkebaya Indonesia terus mendorong masyarakat untuk bersama-sama menjaga kekayaan budaya Indonesia. Upaya tersebut diharapkan turut memperkuat keberadaan perajin serta meningkatkan nilai ekonomi produk tradisional, termasuk kain tenun dari NTT.
Bagi Rahmi, menjaga kebaya dan kain tradisional bukan sekadar mempertahankan peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan cara merawat identitas bangsa, mendukung ekonomi masyarakat, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. (f/red)












