Manggar, Belitung Timur – Detik-detik menuju lonceng pukul 08.00 WIB pagi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi ribuan anak dan ibu di Belitung Timur. Hari ini, Rabu (14/10/2026), asap dapur masa depan resmi mengepul di Desa Mekarjaya, Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur.
Bukan sekadar ruang masak biasa, Gedung Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau yang kini distandarisasi sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), resmi berdiri kokoh menghadirkan asa baru bagi ketahanan pangan lokal.
Gedung yang dirancang dengan sistem higienitas tingkat tinggi ini menjadi episentrum baru pergerakan gizi di desa. Dinding-dindingnya yang steril siap mengolah ratusan porsi makanan padat nutrisi setiap harinya. Program prioritas nasional yang digawangi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga menjadi benteng pertahanan pertama bagi ibu hamil dan menyusui di wilayah Mekarjaya dari ancaman stunting. Fasilitas strategis SPPG Mekar Jaya ini kini resmi dikelola di bawah kepemimpinan Agus Kursadi.
Rangkaian acara formal pagi ini diawali secara khidmat dengan laporan dari Kepala SPPG Mekar Jaya Manggar, Muhammad Nur, S.I.Kom. Dalam laporannya, ia memaparkan kesiapan teknis fasilitas, kapasitas produksi dapur, serta target sasaran distribusi pemenuhan gizi yang akan dilayani oleh unit kerja tersebut.
Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas kolaborasi besar ini.
“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hari ini kita dapat menghadiri peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekar Jaya Manggar. Atas nama Pemerintah Kabupaten Belitung Timur, saya menyampaikan apresiasi kepada Badan Gizi Nasional, Yayasan Harapan Nusa Persada, dan seluruh pihak yang telah mendukung hadirnya SPPG ini,” ungkap Kamarudin Muten dalam sambutannya.
Bupati menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan agenda krusial yang wajib didukung bersama. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus berjalan dengan sangat baik, mulai dari penyediaan makanan yang bergizi, bersih, dan aman, hingga memastikan distribusinya tepat sasaran.
Secara terbuka, Bupati juga menyoroti tantangan lokal yang sempat dihadapi dalam proses pendirian fasilitas ini. “Pendirian SPPG Mekar Jaya sebelumnya menghadapi kendala terkait aktivitas meja goyang (tambang timah konvensional) di sekitar lokasi, sehingga penataan lingkungan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu dilakukan agar operasional SPPG berjalan lancar,” jelasnya.
Kepada Agus Kursadi selaku pengelola SPPG Mekar Jaya, Kamarudin Muten menginstruksikan dengan tegas untuk menjaga ketat kebersihan dapur dan peralatan, memastikan bahan makanan layak dan diolah dengan benar, serta memeriksa kualitas makanan sebelum dibagikan dan memastikan distribusinya tepat waktu. Ia meminta agar setiap kendala yang muncul segera ditindaklanjuti tanpa penundaan.
Selain pemenuhan gizi, Bupati melihat program ini sebagai peluang emas bagi ekonomi kerakyatan.
“Manfaatkan produk lokal yang memenuhi standar agar program ini juga membantu meningkatkan pendapatan petani, nelayan, dan pelaku usaha di Belitung Timur,” tambahnya.
Ia juga meminta pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan instansi terkait untuk melakukan pengawasan secara berkala guna memastikan kebersihan lingkungan luar tetap terjega.
“Selamat atas peresmian SPPG Mekar Jaya Manggar. Kelola SPPG ini dengan baik dan penuh tanggung jawab agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat serta mendukung peningkatan kualitas generasi Belitung Timur,” tutup Bupati dalam pesan tertulisnya.
Sebagai puncak acara, Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional Republik Indonesia (Sestama BGN RI), Ibu Dr. Lilik Khamiliyah, S.E., M.Si., memberikan sambutan pamungkas sekaligus membuka secara resmi Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Mekar Jaya Manggar. Dalam arahannya, beliau menegaskan pentingnya standardisasi mutu dan keberlanjutan unit pelayanan ini demi menyukseskan program prioritas nasional.
Usai memberikan sambutan, Ibu Sestama BGN RI melanjutkan prosesi dengan mengisi sekaligus menandatangani Prasasti Pesan dan Kesan terhadap komitmen operasional SPPG Mekar Jaya ke depan, yang kemudian ditutup dengan sesi foto bersama para pejabat dan tamu kehormatan.
Suasana peresmian semakin semarak dan menyentuh hati ketika di sela-sela acara, hadir persembahan vokal solo yang memukau dari Muhamad Raihan Yusuf, yang merupakan Putera Kebudayaan Cilik Indonesia 2026. Penampilan apiknya menjadi simbolisasi semangat dan harapan besar bagi masa depan generasi muda di bumi Laskar Pelangi.
Momen bersejarah ini dihadiri secara langsung oleh Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten, jajaran Forkopimda Kabupaten Belitung Timur, serta para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Kehadiran para petinggi daerah ini menegaskan komitmen penuh pemerintah dalam mengawal jalannya program strategis nasional.
Kolaborasi lintas sektor dalam peresmian ini juga terlihat sangat kuat dengan hadirnya Kepala Kantor KPPN Tanjung Pandan dan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palembang yang mengawal aspek akuntabilitas serta standarisasi mutu layanan gizi. Dari sektor edukasi dan sosial, turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta Kepala UPTD Panti Sosial Bina Laras Hijrah, Dinas Sosial dan PMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Peresmian ini juga disaksikan langsung oleh Forkopimcam Manggar, Ketua Yayasan Harapan Nusa Persada, serta Koordinator Wilayah dan Kepala SPPG se-Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Belitung yang akan mendampingi manajemen operasional di lapangan. Dukungan penuh dari akar rumput pun menggema melalui kehadiran para kepala desa se-Kecamatan Manggar serta para Kepala TK/PAUD, SD, SMP, dan SMA se-Kecamatan Manggar selaku penerima manfaat utama program ini, didampingi oleh insan pers serta tamu undangan lainnya.
Dengan diresmikannya fasilitas modern di bawah manajemen yang baru ini, Mekarjaya kini resmi bertransformasi menjadi desa percontohan mandiri gizi, membuktikan bahwa revolusi kesehatan dan investasi generasi emas Belitung Timur justru dimulai dari sudut-sudut dapur pedesaan.












