Pesona Melayu di Hari Jadi Manggar ke-155: Dari Sakralnya Ruang Sidang hingga Kehangatan Tradisi Makan Bedulang

Manggar, Belitung Timur – Suasana khidmat bercampur semarak menyelimuti Ibu Kota Kabupaten Belitung Timur pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Memasuki usianya yang ke-155 tahun, Kota Manggar kembali menegaskan identitasnya sebagai kota yang kaya akan sejarah dan erat memegang teguh adat istiadat leluhur melalui rangkaian perayaan yang memikat mata.

Puncak peringatan Hari Jadi Kota Manggar (HJKM) ke-155 ini diawali dengan Rapat Paripurna Istimewa di Ruang Sidang DPRD Kabupaten Belitung Timur. Dimulai tepat pukul 08.30 WIB, ruang sidang yang biasanya formal kini berubah menjadi lautan warna dan corak khas Nusantara. Berbeda dari rapat-rapat dinas biasanya, seluruh peserta sidang, tamu undangan, hingga Bupati dan Wakil Bupati Belitung Timur tampil memukau dalam balutan Pakaian Adat Melayu Belitong. Keserasian kain tenun, baju kurung, serta destar yang dikenakan para pemimpin daerah ini menjadi simbol penghormatan setinggi-tingginya terhadap warisan budaya lokal.

Saat membuka jalannya persidangan, Ketua DPRD Kabupaten Belitung Timur, Fezzi Uktolseja, menyampaikan pidato sambutan yang menyentuh esensi mendalam dari perayaan ini. Beliau menegaskan bahwa hari jadi kota Manggar bukan sekadar peringatan angka dan perjalanan waktu. Lebih dari itu, peringatan ini merupakan momentum bersama untuk mengenang sejarah, menghargai jasa para pendahulu, merawat warisan adat budaya, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun daerah yang dicintai.

Menurut Fezzi, usia 155 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat kisah perjuangan, kerja keras, suka dan duka, serta kontribusi dari generasi ke generasi yang telah membentuk Kota Manggar menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Kabupaten Belitung Timur. Manggar telah tumbuh bukan hanya sebagai sebuah wilayah, melainkan ruang hidup masyarakat dengan tradisi dan semangat gotong royong yang menjadi kekuatan bersama. Ketika Kabupaten Belitung Timur resmi dibentuk, Manggar dipilih menjadi ibukotanya bukan sekedar karena letaknya yang strategis, tetapi karena sejarah dan peradaban telah lebih dahulu tumbuh di tempat ini.

Fezzi juga menjelaskan landasan hukum pelaksanaan agenda sakral ini. Berdasarkan pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Timur Nomor 9 Tahun 2017 tentang Hari Jadi Kota Manggar, diamanatkan bahwa DPRD menyelenggarakan rapat paripurna dalam rangka peringatan Hari Jadi Kota Manggar setiap tanggal 9 Oktober dengan agenda mendengarkan pidato Bupati Belitung Timur.

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Rapat Paripurna Hari Jadi Kota Manggar ke-155 pada hari Jumat tanggal 9 Oktober 2026, saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum,” ucap Fezzi seraya mengetuk palu sidang yang disambut khidmat oleh seluruh hadirin.

Suasana sidang kian larut dalam optimisme saat Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten, menyampaikan pidato utamanya. Beliau menekankan bahwa 155 tahun merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan sejarah, perjuangan, kerja keras, pengorbanan, dan kebersamaan dalam membentuk identitas masyarakat Manggar. Lahir dari sejarah pertambangan timah, Manggar bertransformasi menjadi kota yang kuat dengan semangat kebersamaan, toleransi, dan kerja keras. Sebagai Kota 1001 Warung Kopi, wilayah seluas 229 kilometer persegi dengan 9 desa dan lebih dari 41 ribu penduduk ini kini menjadi jantung pemerintahan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat Belitung Timur.

“Jika dahulu Manggar dikenal karena timahnya, maka hari ini kita ingin Manggar dikenal karena inovasi, pelayanan, kreativitas, dan kemajuan masyarakatnya. Tema ‘Manggar Bejaye, Belitung Timur Maju Besame’ bukan sekadar slogan, tetapi harus kita wujudkan melalui kerja nyata dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat,” tegas Kamarudin Muten.

Dalam pidatonya, Bupati memaparkan berbagai capaian sepanjang tahun 2024 hingga 2026 di Kecamatan Manggar. Di bidang infrastruktur, revitalisasi Situ Kulong Minyak telah selesai sebagai ruang konservasi dan ikon wisata baru di tengah kota, disusul perbaikan jalan di Desa Padang, Kurnia Jaya, Mekar Jaya, dan Bentaian, serta program bedah rumah di Kampong Laut. Manggar juga telah mendukung penuh 100 persen Layanan Publik Berbasis Digital di 9 desanya, di mana Desa Mekar Jaya berhasil meraih Juara 1 Lomba Desa Tingkat Kabupaten tahun 2024. Sektor ekonomi kreatif, pariwisata Pantai Nyiur Melambai, dan pemberdayaan nelayan juga terus digenjot selaras dengan pengelolaan sampah pesisir yang kini mencapai 56,80 persen.

Menatap tahun 2027, Bupati Kamarudin Muten menggarisbawahi empat fokus utama perhatian pemerintah. Pertama, bidang pendidikan melalui dukungan pembangunan Sekolah Rakyat dan pendidikan vokasi di Desa Padang. Kedua, penataan kota dengan menyulap kawasan Sungai Manggar serta eks-kulong tambang menjadi kawasan ekonomi kreatif dan ekowisata, sekaligus mempercantik Simpang Lima Manggar sebagai ruang terbuka hijau. Ketiga, mewujudkan kota yang tertib dan humanis melalui kelanjutan penataan kawasan kumuh Kampong Laut serta penataan PKL dan parkir Pasar Manggar. Keempat, memperkuat pelayanan publik digital terintegrasi serta penguatan peran BUMDes dan Karang Taruna sebagai penggerak ekonomi.

Menutup pidatonya, Bupati menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh elemen masyarakat, Tim Perumus HJKM, serta Forkopimda yang menjaga kondusivitas daerah.

“Kepada seluruh masyarakat dari berbagai suku, agama, dan budaya, saya menyampaikan terima kasih atas kerukunan dan keharmonisan yang selama ini kita jaga bersama. Mari terus kita perkuat toleransi, saling menghargai, dan gotong royong. Jangan biarkan perbedaan memisahkan kita, karena keberagaman adalah kekuatan yang menyatukan Manggar dan Belitung Timur,” pungkasnya.

Tak berhenti di ruang sidang, esensi sejati dari perayaan HJKM ke-155 justru memuncak seusai ketukan palu sidang berakhir. Rombongan kepala daerah beserta jajaran legislatif langsung bertolak menuju Ruang Pertemuan H. Thalib Syarif di Kantor Camat Manggar untuk mengikuti Prosesi Makan Bedulang. Dimana sebelumnya dilakukan pemberian penghargaan, tropi dan uang pembinaan yang didukung oleh perbankan salah satunya dari Bank Sumsel Babel Cabang Manggar kepada para pelajar SMP dan SMA yang ikut lomba berpantun.

Makan Bedulang merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Belitong yang sarat akan makna filosofis. Di dalam ruangan, puluhan tulang (talam lingkaran besar) yang ditutup dengan tudung saji merah bermotif khas telah berjejer rapi. Setiap bedulang dinikmati secara berkelompok oleh empat orang yang duduk bersila saling berhadapan.

Suasana keakraban langsung terasa saat tudung saji dibuka secara serentak, aroma masakan otentik khas Belitong langsung menggugah selera. Di sini, sekat-sekat formalitas birokrasi seolah melebur. Bupati, anggota dewan, tokoh adat, dan masyarakat duduk setara, berbagi lauk-pauk, dan saling bercengkerama. Tradisi ini mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya rasa kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan dalam memajukan Kota Manggar.

Rangkaian acara hari ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi tahun 2026, Kota Manggar tidak pernah melupakan akar budayanya. Rangkaian perayaan HJKM ke-155 yang dijadwalkan berlangsung hingga 11 Oktober ini diharapkan dapat menjadi magnet pariwisata sekaligus pemantik kebanggaan bagi generasi muda Manggar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!