MANGGAR, BELITUNG TIMUR – Di tengah roda pembangunan infrastruktur Kabupaten Belitung Timur (Beltim) yang terus berputar, sebuah ironi kemanusiaan yang menyayat hati tersembunyi rapat di pesisir kawasan Perumahan KpL (Kampong Laut), Desa Kurnia Jaya, Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur.
Sebanyak 24 petak bangunan bedeng semi-permanen di wilayah tersebut kini berdiri dalam kondisi kritis, menantang maut demi menampung luapan manusia yang berjejal di dalamnya.
Hasil penelusuran mendalam di lapangan mengonfirmasi bahwa seluruh bangunan komunal ini telah masuk dalam fase Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tingkat berat. Struktur paling krusial, yakni rusuk-rusuk bangunan yang berbahan dasar bambu, terpantau telah lapuk, retak, miring, bahkan beberapa di antaranya patah akibat hantaman cuaca pesisir. Selasa (29/9/2026).
Pemandangan fisik bangunan yang mulai condong ke satu sisi menjadi sinyal jelas bahwa daya dukung strukturalnya telah habis dimakan usia dan angin garam laut. Namun, ancaman ambruknya bangunan hanyalah puncak dari gunung es masalah di Kampong Laut.
Hal yang paling mengejutkan sekaligus memilukan adalah tingkat kepadatan penghuninya yang ekstrem. Setiap petak bedeng yang hanya memiliki ukuran mini 5 x 6 meter (30 meter persegi), dipaksa menjadi tempat bernaung bagi 1 hingga 4 Kepala Keluarga (KK) sekaligus.
Ruang sekecil itu, yang menurut standar kelayakan hunian internasional bahkan tidak cukup untuk dua orang, kini diisi oleh belasan jiwa dari lintas generasi. Mulai dari bayi, anak-anak, orang tua, hingga lansia berkumpul di satu ruang tanpa sekat yang memadai.
Di dalam ruang pengap itu pula aktivitas memasak, tidur berhimpitan, hingga interaksi sosial harian bercampur baur menjadi satu. Kondisi krisis ruang ini tidak hanya merampas hak privasi warga, tetapi juga memicu ancaman serius terhadap klaster kesehatan akibat sanitasi yang buruk.
Setiap kali malam hari tiba atau saat angin kencang bertiup dari arah laut, warga mengaku selalu terjaga. Bunyi derit bambu penyangga yang mau patah terdengar sangat jelas di atas kepala mereka. Warga hanya bisa saling berpelukan dan berdoa agar atap tidak roboh menimbun anak-cucu saat terpejam.
Jeritan batin ini terkunci oleh kemiskinan struktural, mengingat mayoritas penghuni merupakan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang menggantungkan hidup sebagai nelayan tradisional dan buruh harian. Pendapatan yang tidak menentu membuat renovasi mandiri menjadi kemewahan yang mustahil digapai.
Kondisi darurat ini dikonfirmasi langsung oleh Pemerintah Desa setempat. Berdasarkan keterangan dari Kepala Desa Kurnia Jaya, Jus’an. Pihak Pemdes secara terbuka mengakui bahwa situasi 24 petak bedeng ini sudah berada di luar batas kemampuan anggaran desa (APBDes).
Oleh karena itu, Kepala Desa Kurnia Jaya, Jus’an menaruh harapan besar dan mendesak Pemerintah Daerah Belitung Timur, khususnya Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), untuk segera turun tangan melakukan eksekusi perbaikan total.Pihak desa sangat berharap Pemda Beltim segera merespons jeritan warga karena ini murni masalah keselamatan jiwa manusia, bukan lagi sekadar masalah estetika lingkungan atau tata kota.
Pemdes mendesak adanya intervensi darurat, baik melalui APBD Kabupaten maupun program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Langkah administratif dan pengawalan data di lapangan pun siap difasilitasi penuh oleh desa asalkan pihak Kabupaten memberikan lampu hijau untuk penanganan segera.
Waktu terus berjalan, dan rusuk-rusuk bambu di 24 petak Kampong Laut kian melemah. Kini bola panas berada di tangan Pemda Belitung Timur. Jika birokrasi penanganan berjalan lambat, ambruknya pemukiman padat ini bukan lagi soal ‘apakah’, melainkan hanya soal ‘kapan’ bencana kemanusiaan itu akan benar-benar terjadi.












