JAKARTA, MEDIAKOTA.COM,-
Kerajinan khas Kabupaten Asmat, Papua Selatan, kembali mencuri perhatian melalui pameran produk unggulan daerah di Jakarta. Dua karya yang menjadi andalan adalah tas anyaman berbahan daun sagu dan ukiran kayu khas Asmat yang telah dikenal hingga mancanegara.
Kepala Dinas Kabupaten Asmat, Rikover Rumkorem, mengatakan produk yang ditampilkan merepresentasikan kekayaan bahan alam sekaligus karakter budaya masyarakat Asmat.
“Yang kami tampilkan ada tas anyaman dengan ukiran Asmat yang terkenal. Tas anyaman itu dibuat dari daun sagu, sedangkan ukirannya menggunakan kayu,” ujar Rikover.
Menurutnya, keistimewaan ukiran Asmat terletak pada proses pembuatannya yang tidak menggunakan pola baku. Para pengukir menghasilkan bentuk berdasarkan ilham yang kemudian dituangkan melalui gerakan tangan hingga membentuk sebuah karya.
“Ukiran ini memang dibuat tanpa pola. Ketika ilham itu masuk, pengukir mulai membentuk sesuai arahan yang disampaikan melalui jari-jari, akhirnya menjadi satu bentuk,” katanya.
Karakter tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan ukiran Asmat dengan produk kerajinan lainnya. Selain memiliki nilai artistik, proses tersebut juga dipercaya memiliki dimensi budaya dan spiritual yang kuat bagi masyarakat setempat.
Rikover menuturkan, tradisi ukiran Asmat telah lama dikenal luas, bahkan hingga ke luar negeri. Karena itu, pihaknya terus mendorong agar kerajinan tersebut semakin dikenal melalui berbagai kegiatan pameran.
Di Kabupaten Asmat sendiri, pameran dan festival kerajinan digelar secara rutin setiap tahun. Dalam kegiatan tersebut, para pengrajin dari berbagai kelompok maupun perorangan membawa hasil karya untuk dinilai dan dipilih menjadi produk unggulan.
Karya-karya terbaik kemudian dipamerkan dan dapat ditawarkan kepada pengunjung dengan nilai transaksi yang tinggi.
“UMKM di sana banyak. Pengrajin ada yang pribadi maupun kelompok. Hasil karya mereka dinilai, kemudian yang lebih unggul dipilih sebagai produk unggulan,” jelas Rikover.
Untuk pameran kali ini di Jakarta, Kabupaten Asmat membawa dua pengrajin, masing-masing mewakili keahlian anyaman dan ukiran.
Keikutsertaan tersebut diharapkan menjadi pintu untuk memperluas pengenalan produk kerajinan Asmat, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga ke pasar internasional.
“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, hasil karya yang ada di Kabupaten Asmat bisa lebih dikenal lagi secara nasional maupun sampai ke luar negeri,” tutur Rikover.
Bagi Asmat, kerajinan bukan sekadar produk bernilai ekonomi. Di balik anyaman daun sagu dan pahatan kayu, terdapat keterampilan, tradisi, serta identitas budaya yang diwariskan dan terus dikembangkan oleh masyarakat setempat.
Perjelas jabatan Rikover Rumkorem. (f/red)












