Noken Anggrek Deiyai Tembus Rp30 Juta, Dirajut Manual hingga 3 Bulan

JAKARTA. MEDIAKOTA.COM,-
Kerajinan khas Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, mencuri perhatian dalam ajang KriyaNusa. Salah satu produk unggulannya, noken berbahan anggrek, ditawarkan dengan harga hingga Rp30 juta.

Ketua Harian Dekranasda Kabupaten Deiyai, Elisabeth Helena Aibekob, mengatakan produk yang dibawa dalam pameran tersebut seluruhnya menggunakan bahan alami yang berasal dari daerah setempat.

“Produk kami aneka noken, semuanya bahan alami. Ada yang dari kulit kayu, ada juga dari anggrek,” ujar Elisabeth.

Selain noken, Dekranasda Deiyai menampilkan beragam produk yang telah dikembangkan dengan sentuhan modern, mulai dari sepatu, rompi, topi, tas, tusuk konde, sirkam hingga anting dan berbagai aksesori.

Sedikitnya empat sanggar dan satu UMKM dari Kabupaten Deiyai turut ambil bagian dalam pameran tersebut. Mereka merupakan hasil proses seleksi yang dilakukan melalui Pesta Rakyat di Kabupaten Deiyai pada 18 Agustus.

Menurut Elisabeth, noken anggrek dan noken bebel menjadi produk yang paling banyak diminati pengunjung.
Harga noken anggrek berkisar Rp2 juta hingga Rp30 juta. Tingginya harga tidak lepas dari sulitnya memperoleh bahan baku serta proses pengerjaan yang sepenuhnya dilakukan secara manual.

“Dirajut tanpa mesin, manual. Prosesnya lama, bisa sampai tiga bulan untuk satu noken,” jelasnya.
Meski noken Deiyai belum diekspor secara langsung ke luar negeri, Elisabeth menyebut produk noken dari wilayah Papua Tengah telah mendapat pengakuan hingga tingkat internasional. Ia juga menyebut terdapat perajin dari Papua Tengah yang karyanya telah terdaftar di UNESCO.

Keikutsertaan dalam KriyaNusa menjadi momentum penting bagi Deiyai sebagai salah satu daerah otonomi baru untuk memperkenalkan potensi kerajinan lokal ke pasar yang lebih luas.

Elisabeth berharap pemerintah dan penyelenggara berbagai event kerajinan ke depan memberikan ruang lebih besar bagi daerah-daerah otonomi baru untuk tampil dan mengembangkan produk UMKM mereka.
“Kami daerah otonomi baru, baru mulai belajar untuk tampil di event-event seperti ini. Harapan kami ke depan, kabupaten-kabupaten baru juga diperhatikan dan bisa terus bergabung, bukan hanya di event ini, tetapi juga event-event lainnya,” katanya. (f/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!