JAKARTA – Dekranasda Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, membawa semangat pelestarian budaya sekaligus inovasi fesyen dalam ajang Kriya Nusa. Tiga rancangan busana tenun khusus muslimah ditampilkan sebagai upaya memperkenalkan kain tenun daerah ke pasar yang lebih luas.
Ketua Dekranasda Kabupaten Buton Tengah, Hj. Yustina Wa Node, S.Pd., mengatakan rancangan tersebut dibuat untuk menunjukkan bahwa kain tenun daerah dapat dikembangkan menjadi busana muslimah yang modern dan tetap mempertahankan identitas budaya.
“Saya merancang tiga busana tenun untuk muslimah. Saya ingin wanita-wanita di luar sana tidak bingung lagi melihat kain tenun itu bisa dibuat seperti apa oleh fashion designer,” ujar Yustina.
Menurutnya, Buton Tengah memiliki kekayaan motif tenun yang sangat beragam. Salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkannya adalah motif Bunga Labu, yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat pesisir Buton Tengah.
Motif tersebut lahir dari kekayaan kuliner dan kehidupan masyarakat setempat. Bunga labu merupakan salah satu bahan yang digunakan masyarakat dalam olahan makanan, termasuk masakan ikan.
“Saya terinspirasi dari kehidupan masyarakat pesisir di sana. Dari situ saya membuat motif Bunga Labu,” katanya.
Yustina menuturkan, Kabupaten Buton Tengah sebelumnya memiliki sekitar 1.300 penenun. Namun, jumlah tersebut kini menyusut menjadi sekitar 600 penenun, salah satunya karena semakin sedikit generasi muda yang memiliki waktu dan ketertarikan untuk belajar menenun.
Kondisi itu mendorong Dekranasda Buton Tengah untuk mencari cara agar tradisi menenun tidak terputus di tengah perubahan zaman.
Yustina menyebut salah satu langkah yang didorong adalah memasukkan keterampilan menenun ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok) bagi siswa SMP.
“Sebagai Ketua Dekranasda, saya meminta kepada Pemkab dan Pak Bupati agar menenun dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal anak-anak SMP supaya tidak punah,” tegasnya.
Tak hanya mengandalkan kerajinan, Buton Tengah juga memiliki potensi wisata yang menjadi daya tarik tersendiri. Daerah tersebut dikenal sebagai Negeri 1.000 Goa, dengan sejumlah destinasi seperti Gua Laumehe, Gua Bidadari, serta berbagai kawasan pantai, termasuk Pantai Mutiara dan Pantai Maobu.
Selain wisata alam, Buton Tengah juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan teri. Desa Waburense, misalnya, menjadi salah satu wilayah penghasil teri nasi yang telah dipasarkan hingga ke luar negeri.
Yustina mengajak masyarakat untuk datang langsung ke Buton Tengah dan mengenal lebih dekat kekayaan budaya, wisata, serta produk lokal daerah tersebut.
“Mainlah ke Kabupaten Buton Tengah. Di sana banyak makanan segar, penghasil teri, wisata goa dan pantai. Silakan datang dan lihat langsung kekayaan daerah kami,” ujarnya.
Melalui Kriya Nusa, Dekranasda Buton Tengah berharap kain tenun tidak hanya menjadi warisan budaya yang dipertahankan, tetapi juga berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi dan mampu membuka peluang bagi generasi muda. (f/red)












