MEDIAKOTA.COM,—
Industri pengolahan kayu Indonesia dinilai masih memiliki prospek kuat di tengah berkembangnya berbagai material alternatif untuk kebutuhan konstruksi dan bangunan.
Wakil Ketua Bidang Organisasi Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA), Asy’ari, mengatakan kayu tetap memiliki tempat di tengah masyarakat karena karakteristiknya yang berbeda dibandingkan material seperti baja ringan.
“Kayu kapan pun masih tetap bisa dipakai. Bahan pengganti memang banyak, seperti baja ringan, tetapi kayu masih diminati pengguna,” ujar Asy’ari saat ditemui dalam sebuah pameran industri perkayuan bertempat di JI Expo, Kemayoran, Jakarta (23/9) baru-baru ini.
Menurutnya, penggunaan kayu juga relevan dengan upaya mendorong pembangunan yang lebih memperhatikan persoalan lingkungan, termasuk isu pemanasan global dan target net zero carbon.
Asy’ari menjelaskan, ISWA merupakan perkumpulan pengusaha kayu olahan yang terutama bergerak pada sektor woodworking dan molding.
Keanggotaan organisasi tersebut telah mencapai ratusan perusahaan.
“Woodworking lebih kepada pekerjaannya, sementara molding biasanya berkaitan dengan mesinnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, industri perkayuan memiliki keterkaitan dengan sejumlah kementerian, antara lain Kementerian Kehutanan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan. Kondisi tersebut menunjukkan luasnya mata rantai industri kayu dari hulu hingga hilir.
Di sisi lain, perkembangan teknologi mesin menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong produktivitas industri kayu.
Berbagai mesin berteknologi tinggi yang dipamerkan menawarkan proses produksi yang semakin presisi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Teknologi tersebut antara lain digunakan untuk memproduksi berbagai kebutuhan berbahan kayu, mulai dari pintu, jendela, produk plywood, hingga beragam komponen bangunan lainnya.
Asy’ari menilai keberadaan pameran industri menjadi momentum penting bagi pelaku usaha untuk melihat langsung perkembangan teknologi dan mempertimbangkan penerapannya dalam proses produksi.
“Pameran ini sangat baik bagi para pengusaha kayu, terutama yang berminat dengan teknologi lebih maju sehingga bisa menghasilkan nilai tambah yang lebih banyak,” katanya.
Ia berharap pameran tersebut tidak hanya menjadi ajang transaksi mesin dan teknologi, tetapi juga membuka wawasan pelaku usaha mengenai arah perkembangan industri perkayuan ke depan.
Bagi industri kayu nasional, kata Asy’ari, penguasaan teknologi menjadi bagian penting untuk menghadapi persaingan sekaligus meningkatkan efisiensi, presisi, dan nilai tambah produk olahan kayu Indonesia. (f/red)












