JAKARTA, MEDIAKOTA.COM (22/9),— Pengelolaan air minum Jakarta menembus panggung global. Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang diminta memaparkan perspektif pengelolaan air minum perpipaan dalam Private CEO Roundtable di New York, Amerika Serikat.
Kehadiran tersebut merupakan bagian dari rangkaian 81st UN General Assembly yang mempertemukan pemimpin dan pemangku kepentingan dunia. PAM JAYA hadir atas undangan Ministry of Foreign Affairs of the United Arab Emirates (UAE) selaku penyelenggara forum.
Di hadapan para CEO dan pemimpin bisnis global, Arief membawa pengalaman Jakarta dalam mengembangkan layanan air minum perpipaan sekaligus membahas posisi air sebagai infrastruktur strategis bagi pertumbuhan ekonomi, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, hingga pembangunan kota berkelanjutan.
PAM JAYA menargetkan cakupan layanan 100 persen pada 2029, dengan pengembangan kapasitas produksi hingga 32.950 liter per detik serta jaringan perpipaan sepanjang 16.234 kilometer.
Ekspansi tersebut diarahkan bukan hanya untuk memperluas akses air minum, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan menekan persoalan penurunan muka tanah Jakarta. Di saat yang sama, penguatan infrastruktur air dipandang penting untuk meningkatkan ketahanan kota menghadapi perubahan iklim.
Namun, ekspansi layanan membutuhkan investasi besar. Salah satu perhatian PAM JAYA adalah revitalisasi jaringan perpipaan yang sebagian besar telah berusia lebih dari dua dekade. Pembenahan jaringan ditujukan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus menekan non-revenue water (NRW) atau kehilangan air.
Forum di New York juga membuka ruang penjajakan kerja sama baru. PAM JAYA mulai mengeksplorasi potensi sektor water cooling untuk kebutuhan data center, seiring berkembangnya industri berbasis teknologi dan infrastruktur digital.
Selain itu, PAM JAYA melakukan penjajakan awal terkait creative financing dengan sejumlah pemimpin bisnis. Pendekatan tersebut menjadi salah satu alternatif untuk mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan infrastruktur air Jakarta.
Transformasi layanan juga menjadi bagian dari pengalaman yang dibawa ke forum internasional. PAM JAYA telah memanfaatkan sejumlah teknologi, antara lain smart water meter, integrated billing system, dan enterprise resource planning (ERP) untuk meningkatkan efisiensi, akurasi data, serta mendukung pengambilan keputusan.
“Air bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi. Ketika kita berbicara mengenai pembangunan masa depan, maka pembicaraan mengenai air harus ditempatkan di bagian paling fundamental,” ujar Arief.
Keterlibatan PAM JAYA dalam rangkaian 81st UN General Assembly menjadi momentum untuk memperkenalkan pengalaman Jakarta dalam pengelolaan air minum perpipaan sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan peluang kolaborasi internasional.
Bagi Jakarta, agenda tersebut menegaskan satu hal: air bukan sekadar urusan pelayanan dasar, tetapi bagian dari strategi pembangunan kota, investasi, dan daya saing ekonomi di masa depan. (f/red)












