Jakarta, MEDIAKOTA.COM,-
Semangat demokrasi organisasi mewarnai pelaksanaan pemilihan kepengurusan Keluarga Alumni Universitas Indraprasta PGRI (Kaluni Unindra). Pemilihan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Priode 2026-2031 dilakukan secara langsung (offline) sebagai upaya menjaga transparansi, legitimasi, serta menghindari potensi kecurangan dalam proses pemilihan.
Demikian dikatakan Rukmana, Ketua lama ketika diminta komentarnya baru-baru ini (24/5).
Dikatakan Rukmana, organisasi alumni memiliki peran strategis dalam mendukung kemajuan almamater. Karena itu, kepemimpinan baru diharapkan mampu membawa organisasi semakin berkembang dan memiliki kontribusi nyata bagi kampus maupun alumni.
“Harapannya siapa pun yang terpilih nanti, baik Ketua Kaluni maupun Sekjen, bisa membawa Kaluni menjadi lebih baik lagi. Karena kita menyadari bahwa organisasi alumni merupakan variabel penting untuk menunjang kemajuan almamater atau kampus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan Kaluni Unindra dari masa ke masa menunjukkan tren positif. Pada fase awal, organisasi masih berada dalam tahap merintis dan membangun fondasi karena usia alumni Unindra yang relatif masih berkembang.
Namun kini, jejaring alumni mulai diperluas ke berbagai sektor.
“Sejauh ini kami optimistis kepengurusan ke depan akan jauh lebih berkembang. Kami sudah mulai membuka koneksi dan jejaring di luar agar alumni Unindra semakin dikenal. Siapa pun yang terpilih nanti, koneksi itu akan terus disambungkan dan dikembangkan,” katanya.
Saat ini, jumlah alumni Unindra tercatat mencapai lebih dari 10 ribu orang. Sementara itu, kepengurusan aktif berada di kisaran 20 hingga 30 orang.
Untuk pemilihan kali ini, panitia menerapkan sistem verifikasi ketat terhadap peserta yang memiliki hak suara. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 180 alumni telah mengisi formulir pendaftaran, dengan proyeksi peserta hadir mencapai 250 hingga 300 orang pada hari pemilihan.
Menurut Rukmana, mekanisme pemilihan sengaja dilakukan secara offline guna menjaga kredibilitas proses demokrasi organisasi.
“Pemilihan dilakukan langsung, bukan online, karena kami ingin menghindari asumsi-asumsi soal kecurangan atau hal yang tidak diinginkan. Jadi peserta yang memilih adalah mereka yang benar-benar hadir dan sudah terverifikasi,” jelasnya.
Verifikasi dilakukan melalui dua tahapan, yakni pencocokan data melalui database Unindra dan penelusuran melalui sistem pendidikan tinggi nasional. Bahkan bagi alumni yang lupa nomor induk mahasiswa, panitia tetap membantu melakukan pencarian data untuk memastikan status kealumnian peserta.
“Kalau ada alumni yang lupa nomor induknya saat kuliah dulu, kami bantu cek melalui data pendidikan tinggi agar benar-benar valid bahwa dia alumni Unindra,” tambahnya.
Terkait mekanisme kuorum, Kaluni Unindra tidak mengacu pada persentase total alumni yang mencapai puluhan ribu orang. Forum pemilihan ditentukan berdasarkan jumlah peserta yang telah registrasi dan hadir langsung di lokasi pemilihan.
“Forum kami hitung dari peserta yang sudah registrasi dan hadir langsung saat pemilihan. Karena kalau harus mengacu pada total alumni, tentu sulit dipastikan seluruhnya bisa terdata atau hadir,” pungkasnya.(f/red)












