PT Anzawara Satria Datangi Mabes Polri Laporkan Maraknya Pertambangan Ilegal

Rabu | 15 September 2021 | 19:13:34 WIB
Kejaksaan Agung RI

FOTO : ISTIMEWA/MEDIAKOTA

MEDIAKOTA.COM,-Jakarta

PT. Anzawara Satria didampingi kuasa hukumnya Zarkani, SH baru-baru ini (15/9/2021) mendatangi Mabes Polri dalam rangka melaporkan maraknya pertambangan ilegal di wilayahnya.
Ia mengaku telah berkirim surat yang ditujukan langsung ke Kepala Kepolisian RI, Jend. Pol. Listyo Sigit Prabowo, "kedatangan kami ke Mabes Polri aekarang ini juga sekaligus untuk memastikan surat yang telah dikirim minggu lalu karena hingga sekarang ini belum ada respon yang kami terima," terang Zarkani, SH.

PT Anzawara Satria yang mengantongi izin tambang resmi merasa sanagat dirugikan akibat aktivitas penambangan ilegal diwilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) miliknya yang berlaku hingga 1 Januari 2025, di Angsana Kab. Tanbu Kalimantan selatan," terang Zarkani.
Untuk itu pihaknya datang ke Bareskrim Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kehadirannya dimaksudkan untuk mempertanyakan surat pelaporan yang sudah pernah dikirimkan ke Mabes Polri yang ditujukan ke Kapolri, setelah dicek ternyata diminta ulang untuk mengajukan dan hari Rabu depan hadir kembali untuk kelanjutannya.

"Terkait penambangan ilegal yang terjadi yaitu di IUP OP PT Anzawara Satria sudah hampir tiga bulan lamanya, namun tidak ada tindakan tegas dari pihak berwenang di Kalimantan Selatan, sehingga kami meminta bantuan dari Kapolri supaya ditindak tegas kegiatan para ilegal yang dilakukan sampai hari ini," ujar Zarkani, SH badvokat pada kantor Justice Front Law Firm.

Adapun Kerugian yang dialami negara dan pelapor akibat penambangan illegal (PETI) yang dilakukan oleh terlapor sampai dengan tanggal 31 Agustus 2021 mencapai kurang lebih Rp. 30.000.000.000,- (tiga puluh milyar rupiah).
Lebih lanjut Zurkani SH menjelaskan, bahwa sebelumnya pihaknya pada tanggal 3 Juli 2021, telah melaporkan atas kejadian dugaan tindak pidana penambangan illegal (PETI) yang terjadi di wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria pada Dit Krimsus Polda Kalsel, dalam bentuk laporan Dumas pada tanggal 2 Juli 2021 pada pukul 09.00 WITA saksi pelapor menemukan kegiatan penambangan illegal dan sempat bertemu dengan kelompok terlapor, namun tidak ditanggapi.
Seebelumnya, pada tanggal 25 Juni 2021 pukul 12.08 WITA, dua orang saksi pelapor menemukan 1 Bulldozer dan 2 buah mobil masuk ke dalam wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria kemudian mendokumentasikan kegiatan penambangan illegal tersebut, tak berapa lama datang seseorang yang
mengaku sebagai anggota polri meminta kepada dua orang saksi pelapor untuk menghapus foto dan video yang mereka dokumentasikan, kemudian anggota polri tersebut meminta dua orang saksi untuk pulang dan berpesan agar yang berhadapan adalah para atasan saja, jangan sampai orang lapangan terlibat bentrok fisik; Bahwa dua orang saksi pelapor menemukan alat berat 4 Excavator juga masuk ke wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria seluas 3.062.8 ha.
Kelompok terlapor dengan jumlah 10 orang menggunakan 3 buah mobil langsung melakukan penggeledahan menaiki mobil saksi pelapor dan satu orang mengaku oknum anggota Polri mengintimidasi saksi pelapor agar menghapus hasil dokumentasi yang dilakukan menggunakan drone dari PT. Anzawara Satria.

Bahwa pada tanggal 26 Juni 2021 karyawan PT. Anzawara Satria tidak bisa berpatroli di wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria dikarenakan setiap jalan masuk dijaga oleh penambang illegal dan juga para preman penambang illegal berpatroli di seputar wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria di Angsana.
Dan pada tanggal 27 Juni 2021 karyawan PT. Anzawara Satria hanya bisa mendokumentasikan dari kejauhan kegiatan penambangan illegal (PETI) yang dilakukan oleh terlapor.

Bahwa ada dua titik aktifitas yang dilakukan oleh terlapor yaitu.
Titik pertama, di sekitar danau ditemukan 2 Excavator, 1 Bulldozer, 4 Dumptruk, 1 Trailer, 1 mobil triton dan 1 buah rumah bangunan kayu dengan sekitar 10 orang penghuni; Titik kedua di dekat masjid desa Bunati, ditemukan 4 Excavator, 2 Bulldozer, 1 Glader.

Bahwa aktifitas penambangan illegal (PETI) sudah terjadi hampir 2 bulan terakhir, pada tanggal 26 Agustus 2021 baru ada tindakan dari aparat kepolisian anggota Sub Dit IV Tipidter Dit Krimsus Polda Kalsel turun ke lapangan bersama anggota ESDM Prov. Kalsel mendatangi lokasi IUP OP PT. Anzawara Satria di Angsana dan melakukan pemetaan 10 titik koordinat yang diduga di lahan tersebut ada aktifitas penambangan illegal, namun saat tiba di lokasi, petugas hanya menemukan bekas galian 10 lobang lebih dan ratusan ton batubara yang belum terangkut, kemudian tidak ada satupun pelaku atau barang bukti yang berhasil diamankan karena kuat dugaan mereka mengetahui informasi sehingga kabur serta mengeluarkan alat-alat berat ke semak -semak kebun sawit di luar wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria sehari sebelum kedatangan petugas sesuai bukti rekaman video pada lampiran.

Bahwa sekitar pukul 16.30 wita anggota Dit Krimsus Polda Kalsel dan anggota ESDM Prov. Kalsel pulang meninggalkan lokasi IUP OP PT. Anzawara Satria di Angsana dengan tidak melakukan pemasangan garis polisi,
Bahwa pada tanggal 30 Agustus 2021 para pelaku penambangan illegal kembali beraksi, karena anggota Dit Krimsus Polda Kalsel tidak memasang garis polisi di lokasi kejadian, sehingga pihak penambang illegal bebas masuk kembali.
“Berdasarkan laporan uraian tersebut di atas, kami mohon bantuan kepada Jenderal Kapolri kiranya dapat berkenan melakukan tindakan tegas yang tertinggi di Negara Republik Indonesia ini untuk mencegah maraknya penambangan illegal (PETI) yang terjadi di wilayah IUP OP PT. Anzawara Satria di Angsana Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan," pungkasnya. (fz)